2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #8

Semenarik ini Pertandingan Olahraga

Hari kedua class meeting. Masih tidak ada kegiatan belajar mengajar. Seandainya tidak ada class meeting, seharusnya semalam aku belajar semalam suntuk untuk menghafalkan materi bab pertama dari buku paket Fisika. Aku patut bersyukur dengan adanya class meeting.

Oh, tentang kemarin, aku pulang lebih dulu. Aku terpengaruh Sandi, Ramot, Santo, dan Suhandi, yang membujuk aku untuk meninggalkan area sekolah Marius di luar jam sekolah. Sebetulnya ini tidak boleh dilakukan. Bagaimanapun, tidak sepatutnya meninggalkan sekolah saat belum waktunya.

Ramot tertawa. “Hahaha… nggak usah polos-polos, Noel. Bolos sedikit, nggak apa-apa, lah. Kalau dihitung absen, paling cuma sekali. Nggak ngaruh juga ke nilai rapor."

Sandi menimpali, “Feeling gue, Mot, nggak dihitung absen.”

“Serius lu, San?” tanya Ramot mengernyitkan dahi.

Sandi mengangguk dan segera duduk di tanah yang beralaskan spanduk bekas berwarna biru. Sandi langsung mengambil game boy dan berkata kepada si bapak bertopi koboi bahwa ia memilih untuk menyewa salah satu game boy untuk tiga puluh menit jam bermain.

“Oh, baguslah kalau begitu,” kata Ramot menarik nafas lega. Ia pun segera duduk dan ikut bermain game boy. “Semoga aja benar kata-kata lu, San. Hahaha.”

Slow sih, Noel,” ucap Sandi nyengir yang cukup asyik bermain game boy. “Mending main dulu. Nggak usah pusing-pusing mikirin pelajaran sekolah terus. Sekali-kali nikmati hidup. Kita masih ABG. Ntar, kalau udah jadi orang dewasa, kapan lagi dapat kesempatan kayak begini. Atau, mau gue bayarin main?”

Santo dan Suhandi ikut bermain game boy. Sementara aku memutuskan untuk tidak ikut bermain. Aku lebih memilih untuk memperhatikan teman-teman sekelasku itu bermain game boy. Eh, kadang aku bingung sendiri mengapa lidah orang Indonesia kesulitan mengucapkan game boy sehingga harus diucapkan sebagai jimbot. Sejak masih kelas 2 SD, aku terbiasa menyebut gawai yang sedang dimainkan Sandi, dkk sebagai jimbot.

Lihat selengkapnya