2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #10

Gonjang-ganjing Telenovela

Sebelumnya aku pernah bercerita, kan, setelah masa class meeting dan upacara bendera selesai, ada beberapa ulangan harian menanti. Aku langsung pusing sendiri. Langkahku gontai sekali. Menaiki tangga ini pun terasa susah sekali. Ibarat aku sedang mendaki Gunung Jayawijaya yang berada di Papua.

Virgo ikut tertawa. “Eh, tapi, minggu depan, kan, banyak ulangan. Ada ulangan Matematika, Fisika, Bahasa Sunda, sama Biologi. Persiapan ulangan minggu depan, yah, Noel.”

Hari ini hari senin. Tanggal 20 Agustus 2001. Sudah sekitar satu setengah bulan aku menjadi murid SMP. Untuk jadwal hari ini, masih tetap sama. Jam pertama adalah mata pelajaran Biologi. Gurunya itu Pak Hadi yang nyentrik. Setiap masuk kelas, dia hampir jarang menerangkan materi. Begitu duduk di bangku guru, dia akan langsung memanggil salah seorang dari murid yang sering membuat keributan di kelas. Apa lagi jika untuk menyuruh yang bersangkutan memijat punggungnya. Lalu, sekretaris kelas, yang dalam hal ini adalah Mareta, disuruh menyalin di papan tulis, materi Biologi dari dirinya. Murid-murid lainnya lalu disuruh mencatat apa yang Mareta tuliskan di papan tulis.

Eh, salah, deh. Pak Hadi pernah menjelaskan materi. Jika aku tak salah ingat, itu saat minggu pertama Agustus. Sebelum class meeting. Salah seorang dari murid-murid kelas 1-1 membawa bunga putri malu sebagaimana yang diperintahkan oleh Pak Hadi. Selama jam pelajaran Biologi, Pak Hadi langsung menerangkan mengenai bunga putri malu.

“Lihat, lihat,” Jari-jari Pak Hadi bersiap menyentuh daun-daun bunga putri malu. “kalau Bapak sentuh daun-daunnya, mereka langsung mengatup begitu. Hebat, yah. Itu salah satu mekanisme pertahanan yang dimiliki oleh bunga putri malu. Sama seperti cecak, yang langsung memutuskan ekor waktu ada yang menangkapnya. Coba, deh, tangkap seekor cecak. Dijamin, kalian nggak akan pernah bisa. Sudah langsung memutuskan ekornya, dia itu. Bahkan, kalian tahu tidak, katanya, cecak itu punya penglihatan yang luar biasa. Sebelum tertangkap, dia sudah kabur duluan."

Saat itu, yang aku perhatikan, murid-murid kelas 1-1 cukup terpana dengan penjelasan Pak Hadi. Di saat aku dan yang lainnya cukup memikirkan kata-kata Pak Hadi, eh, gubrak, Pak Hadi tiba-tiba menyuruh Yoshi ke arah meja guru. Yoshi diminta Pak Hadi untuk memijat beliau lagi. Sembari punggungnya dipijat, Pak Hadi menyuruh aku dan yang lainnya untuk mengerjakan soal-soal di bab pertama yang berada di dalam buku paket Biologi.

“Yoshi," kata Pak Hadi yang mulai keenakan. “Yang kuat sedikit kenapa kamu mijit Bapak. Seperti waktu itu, Yos. Lebih bertenaga.”

“Pak,” ucap Yoshi yang sebetulnya terlihat muak disuruh memijat punggung Pak Hadi. “saya jauh-jauh dari BSD ke Marius, masa cuma disuruh mijit punggung Bapak? Saya nggak disuruh ikut ngerjain soal juga?”

“Sudah, kamu mijit Bapak,” kata Pak Hadi yang sepertinya mulai akan jatuh ke alam mimpi. “Nanti, nilai Biologi kamu di rapor nggak akan Bapak bikin merah.”

“Serius, Pak?” tanya Yoshi mengernyitkan dahi, serasa tak percaya.

Yo, serius aku iki, Yos,” kata Pak Hadi mendesah. “Kamu ndak percaya karo aku? Pamali ngapusi iku. Gusti Allah ora suka umat-Nya suka ngapusi."

Lihat selengkapnya