Kemarin aku sudah menjalani satu hari yang cukup berat. Dua ulangan harian dalam satu hari. Yang pertama, ulangan harian Biologi. Selanjutnya, ada ulangan harian Bahasa Sunda. Sebetulnya ada tiga. Hanya saja dibatalkan, untuk ulangan harian Fisika.
Aku masih terngiang-ngiang bagaimana jalannya ulangan harian Biologi kemarin. Padahal belum ulangan umum, tapi suasananya tak jauh berbeda. Seperti sedang mengikuti ulangan umum. Yang begitu selesai, jika tidak istirahat terlebih dahulu, langsung pulang. Kegiatannya pun hanya separuh dari jam belajar mengajar yang biasanya.
Ramot berkali-kali menendang-nendang bangkuku. Ia bertanya terus tentang soal ini, jawabannya apa. Sesekali aku menggubris gangguannya. Aku agak menjulurkan lembar ujian ke arah Ramot agar ia bisa mengetahui jawabannya.
“Bacain, lah,” keluh Ramot mengernyitkan dahi, berbisik. “Tulisan lu lebih jelek dari cakar ayam. Nggak kebaca gue, Noel, maaf.”
Sialan!
Sudah ingin jawaban soal Biologi, menghina tulisan tanganku. Aku sedikit meradang. Seharusnya aku bisa mengabaikannya saja. Aku mungkin hanya takut, yang sedikit bercampur kasihan. Tendangan ke sekian dari Ramot ke arah bangkuku, masih saja aku gubris. Bahkan aku bingung mengapa aku memenuhi permohonannya. Kubacakan jawabannya untuk Ramot. Bahkan aku pun membiarkan Doni ikut mencontek jawaban ulangan Biologi aku. Sandi sampai menggeleng-gelengkan kepalanya. Sayup-sayup aku mendengar Sandi mengumpat aku, “Bego, kenapa diturutin sih?”
Aku terkekeh-kekeh. Agak bergeming sejenak sembari memikirkan soal berikutnya. Aku sempat memperhatikan Pak Hadi. Pantas saja banyak teman yang mencontek. Bahkan ada satu-dua orang yang diam-diam melihat buku paket Biologi. Tentu saja bisa terjadi seperti itu. Pak Hadi sedang mengorok di meja guru. Asyik sekali guru Biologi aku ini tertidur di saat murid-murid beliau sedang sibuk mengerjakan soal-soal Biologi yang sebenarnya tidak sulit.
Dua jam pelajaran Biologi dihabiskan untuk ulangan harian. Nyaris sebetulnya, istilah tepatnya. Begitu Pak Hadi yang diikuti dengan suara alarm jam weker, lembar jawaban harus segera dikumpulkan. Entah itu selesai atau tidak selesai. Lembar jawaban selesai dikumpulkan oleh Yoshi, murid kesayangan Pak Hadi. Pak Hadi segera meninggalkan kelas dan masuk ke dalam ruang kelas 1-2. Ternyata kelas sebelah pun sedang ulangan harian.
Sekitar lima menit kemudian, Bu Iyah masuk ke dalam ruangan kelas. Murid-murid diberikan kesempatan untuk belajar sekali lagi. Barulah sekitar lima belas menit kemudian, berlangsung ulangan harian Bahasa Sunda. Dikatakan susah, sebetulnya tidak. Menurut insting aku, soal-soalnya sebetulnya mudah. Yang sulit itu karena ditulis dalam bahasa Sunda. Ada beberapa kata dalam soal yang tidak aku ketahui. Aku mengernyitkan dahi. Sandi melirik ke arah aku.
“Ngartos itu artinya mengerti,” bisik Sandi tersenyum.
Aku mengangguk, nyengir. “Lu bisa bahasa Sunda, yah?”
“Sedikit-sedikit, tapi nggak paham-paham banget, sih,” jawab Sandi masih dengan volume suara yang tak terlalu kencang. “Dulu sempat tinggal di Bandung. Belajarnya otodidak aja. Dari orang-orang di sekitar gue.”