Kali ini yang masuk ke dalam ruangan itu bukan guru Kewarganegaraan alias KWN. Bukan Pak Hia yang masuk, melainkan Pak Monang, wali kelas 1-1. Pak Monang langsung tersenyum ke arah murid-murid kelas 1-1.
Selain sebagai wali kelas 1-1, Pak Monang juga merangkap sebagai guru Agama Kristen. Beberapa kali pertemuan di hari jumat, Pak Monang selalu hadir. Murid-murid kelas 1-2, yang beragama Kristen, berkumpul di ruangan kelas 1-1. Sementara yang beragama Islam, berkumpul di ruang kelas 1-2. Ada pula yang beragama Buddha, tapi itu bisa dihitung dengan jari, dan mereka ini menempati satu ruangan kecil di dekat ruangan kelas 2-1.
Namun, untuk kali ini, Pak Monang masuk ke ruangan kelas bukan sebagai guru Agama Kristen. Beliau masuk sebagai seorang wali kelas. Seviane langsung berdiri dan memberikan aba-aba agar setiap murid memberikan salam.
“Berdiri,” seru Seviane. “Beri salam!”
Spontan murid-murid kelas 1-1 berseru, “Selamat pagi, Pak Guru!”
Bagian Seviane yang memberikan aba-aba agar murid-murid lainnya memberikan salam itu nyaris selalu terjadi di setiap pagi. Terjadi di setiap dimulai dan berakhirnya kegiatan belajar mengajar.
“Bagaimana kabar?” tanya Pak Monang tersenyum. “Baik-baik saja, kan?”
Seviane yang duduk di dekat meja guru, berkata, “Begitulah, Pak.”
“Begitunya bagaimana?” tanya Pak Monang yang menoleh ke arah Seviane. “Belum ada komplain dari guru-guru?”
Mareta yang duduk di samping Seviane, menimpali, “Puji Tuhan, belum ada, Pak Monang. Kelas ini masih sopan-sopan.”
“Kan, kemarin, waktu 17-an, kelas kita menang lomba tata boga.” ujar Seviane tersenyum bangga.
Niki yang duduk di belakang Seviane, ikut menyumbang kata-kata, “Tim basket juga menang, dong, Sev.”
Yoshi yang duduk agak jauh, berseru agak kencang, “Tim basket juara pertama, dong!"
Sebagian dari murid-murid laki-laki berseru kencang. Mereka sepertinya senang sekali dengan prestasi sebagai juara pertama di turnamen olahraga dalam lingkungan sekolah.