Jadwalnya baru. Perubahan posisi tempat duduk juga. Di hari selasa itu, saat Pak Monang masuk ke dalam ruangan kelas, Pak Monang tak hanya memberitahukan mengenai perubahan jadwal, beliau pun mengganti posisi bangku.
“Oh iya, sekretaris kelas, catat dulu ini di papan tulis. Jadwal baru kalian. Ada perubahan jadwal.”
Iya, posisi bangku aku pun berubah. Kali ini aku tidak lagi duduk di deretan kedua dari belakang dan dekat jendela. Aku dipindahkan ke deretan depan. Aku duduk tak jauh dari pintu masuk. Dekat pula dengan meja guru. Dulu aku satu meja dengan Sandi. Kali ini teman satu meja aku adalah Santo. Di belakang aku, ada Melati dan Isabela. Di sebelah kiri, maksud aku meja sebelah kiri aku, duduklah Leo dan Ramot. Sandi masih duduk di posisi yang lama. Sekarang teman satu mejanya adalah Yosua.
Tentang jadwal, ada beberapa perubahan jadwal. Seperti Bahasa Sunda yang jatuh pada hari kamis. Biasanya Bahasa Sunda jatuh pada hari selasa, yang setelah mata pelajaran Biologi. Lalu, mata pelajaran Sejarah dipindahkan dari hari jumat menjadi hari selasa. Biologi berada di rabu, pada jam pertama.
Selain itu, ada pergantian guru pula. Seperti Matematika yang tidak diajar oleh Pak Nelson. Sekarang guru Matematika adalah Pak Effendi. Guru Fisika tidak lagi Pak Boni. Pak Bonifasius--yang berkumis ala Pak Raden--berhenti mengajar, karena katanya, dia akan melanjutkan studi lagi. Pak Bonifasius akan mengejar gelar S1 demi masa depan yang lebih baik lagi. Menurut informasi yang aku dengar, guru Fisika yang baru adalah Pak Fransiskus. Nanti setelah mata pelajaran Agama dan dan Kesenian, ada mata pelajaran Fisika. Tak hanya aku, murid-murid lainnya pun penasaran dengan sosok Pak Fransiskus.
Tanpa terasa aku sudah berada di pintu masuk ruangan kelas 1-1. Seperti biasa, selalu seperti ini suasananya. Tidak saat kegiatan belajar mengajar, tidak pula saat tidak ada kegiatan belajar mengajar, tetap saja sering hiruk pikuk. Senang sekali beberapa murid yang mengobrol dan saat mengobrol, aku bingung dengan teman-teman aku itu, apa harus berbicara dengan suara kencang?
Nila nyengir menatapku. Ia terlihat sedang mengambil sapu. Katanya kepadaku, “Eh, si pe-ak datang.”
Aku mengernyitkan dahi. Kataku dalam hati, pe-ak itu apa.
“Nggak tahu pe-ak kan lu?!” ujar Nila terkekeh-kekeh. “Emang pe-ak, lu itu."
Lalu, Milka berseru dari arah bangkunya, “Nila, si Noel jangan lu godain mulu. Selera lu kan bukan Noel.”
“Dih, amit-amit!” sembur Nila yang entah mengapa tawanya kencang sekali.
Disangka aku mau apa dengan dia, yang sudah pendek, gendut juga. Aku pun memiliki selera perempuan yang lebih menarik dari Nila. Seperti cinta pertamaku, Becky yang entah di mana dia tinggal dan bersekolah.
Aku menggeleng-gelengkan kepala dan segera duduk di bangkuku. Ternyata Santo sudah tiba lebih dahulu dari aku. Ia tersenyum ke arah aku. Aku tersenyum balik. Bahkan Melati yang duduk di belakang aku, ikut tersenyum pula.
“Sabar aja, Noel,” ucap Santo tersenyum.
“Emang pe-ak artinya apa?" tanyaku mengernyitkan dahi. Jujur, aku benar-benar tahu apa artinya pe-ak. Tak hanya pe-ak, aku dulu sempat tidak tahu apa artinya sparring, mutasi, atau mimpi basah.
Sekonyong-konyong aku teringat obrolan tempo lalu, yang bersama Sandi, Ramot, dan Leo.