2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #15

Ulangan Fisika Dapat 85

“Ulangannya close book, yah. Seperti yang hari jumat kemarin, sudah saya beritahukan. Yang berhubungan dengan Fisika, tolong dimasukkan ke dalam tas. Dan, keluarkan lembar jawaban kalian.”

Seperti di cerita sebelumnya, di hari senin kemarin, aku dan teman-teman baru saja menjalani ulangan harian Fisika. Tak hanya Fisika, ada beberapa mata pelajaran juga. Itu seperti Biologi, Bahasa Sunda, dan Matematika. Ah, untuk yang terakhir, bodoh amat. Mau merah merah saja sekalian. Aku sudah terbiasa mendapatkan nilai di bawah angka enam untuk Matematika. 

“Buku paketnya ditutup dulu. Ujiannya seperti yang Bapak bilang, close book. Close artinya tutup. Book artinya buku. Berarti tutup buku.” 

Aku sudah pernah bilang, bukan, bahwa antara aku dan Matematika sulit untuk menjadi teman akrab? Yang mungkin saja itu akan berlangsung selamanya. Aku berharap kelak aku akan mendapatkan pasangan yang bisa berhitung dengan cukup fasih. Sepertinya itu kombinasi yang tepat. Aku yang lemah dalam berhitung, lalu bisa menjalin hubungan dengan seorang perempuan yang jago Matematika. 

Sekonyong-konyong aku cengar-cengir memperhatikan Patricia, yang duduk di belakang aku. Aku dan Patricia itu sahabat sejak kami berdua masih kelas 1 SD. Seperti Fina yang akhirnya pindah sekolah, Patricia itu tergolong berotak encer jika menyangkut ilmu eksakta; yang aku baru tahu Matematika itu termasuk ke dalam ilmu eksakta. Patricia ini lumayan jago berhitung. Aku pernah melihat dirinya tak perlu menggunakan kalkulator untuk mengerjakan soal-soal Matematika yang diberikan oleh Pak Nelson atau Pak Efendi. Sudah cantik, murah senyum, dan jago Matematika pula. 

Aku menelan air liur dan cukup lama memandangi Patricia. Baru kali ini aku merasakan sesuatu yang spesial saat memandang Patricia. 

Terdengar suara dehaman dari arah samping kiri aku. Aku menengok dan melihat Leo sedang tersenyum jahil. Ujarnya, “Lihat siapa lu, Noel? Patricia?”

Aku menggeleng malu-malu. Kembali aku menelan air liur. 

“Incerannya Erick itu,” kata Leo yang memandang ke arah Doni. “Naksir Patricia, dia, Don.”

“Eh, ciye,” kata Doni terkekeh-kekeh. Doni segera beringsut ke arah aku dan berbisik, “Mau gue ajarin, nggak, cara deketinnya? Tenang aja, selera gue bukan Patricia.”

“Yang cewek SMA itu, yah, Don?!" tanya Leo nyengir. 

Lihat selengkapnya