2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #17

Engkoh-engkoh Cina itu Bernama Sandi

Sekarang sudah tanggal 3 September. Hari senin. Tak terasa aku sudah satu setengah bulan menjadi murid SMP. Pekerjaan-pekerjaan rumah yang silih berganti. Ulangan demi ulangan yang harus aku ikuti. Yang, puji Tuhan, rata-rata hasilnya itu lumayan bagus. Hanya sedikit yang bernilai merah. Salah satu yang sedikit itu sudah pasti Matematika. Aku dan Matematika memang tidak diciptakan untuk menjadi sahabat satu sama lain. 

Jam pertama adalah Komputer. Untuk pagi ini, khusus pendalaman materi saja. Hanya pembahasan teori. Untuk praktiknya, pada hari jumat, di jam satu siang, dan di dalam ruang laboratorium komputer. Sayangnya, hingga sekarang, murid-murid kelas 1 belum diizinkan untuk masuk ke dalam laboratorium komputer. Tadi Bu Situmorang bilang, masih dalam maintenance alias pemeliharaan. Ada beberapa komputer yang harus diperbaiki juga. 

“Yah, pokoknya, sabar saja, lah, kalian,” ucap Bu Situmorang terkekeh. Logat Batak beliau cukup kentara. “Kalau sudah saatnya, nanti Ibu izinkan kalian masuk ke lab. Untuk kali ini, laboratorium komputer lebih dikhususkan untuk kakak-kakak kelas kalian di kelas tiga. Nanti juga kalian akan merasakan bermain komputer itu sebenarnya menyenangkan.”

Berikutnya, Bu Situmorang membagikan hasil ulangan harian. Beliau memberikan selamat ke aku. Aku merupakan satu-satunya murid di kelas 1-1 yang mendapatkan nilai 10, 100, atau… yang jelas, nilai sempurna. Jawabanku benar semua. Teman-temanku langsung bersorak. Isabela yang duduk di belakang aku, sampai menyelamatiku. Termasuk juga Ramot dan Leo. 

“Calon-calon juara kelas pembagian rapor caturwulan nanti,” seru Bu Situmorang yang lalu menunjuk ke arah beberapa orang murid dan itu sudah termasuk aku. “Si Noel, si Sandi, sama si Patricia. Ibu tidak heran kalau nanti nama-nama kalian dipanggil maju ke depan lapangan waktu bagi rapor nanti.”

“Si Ibu bisa aja,” seru balik Sandi cengar-cengir. Yang kuperhatikan, wajah Sandi memerah. Makin lama kulihat Sandi terlihat makin mirip Sadam di Petualangan Sherina. Andai saja Sandi tidak kurus (yang nyaris kerempeng), dan agak gemuk, ia makin mirip dengan Sadam. 

Sementara Patricia hanya berkata, “Amin, Bu…”

“Harus yakin kalian bertiga,” ujar Bu Situmorang mengacungkan tinju ke arah langit-langit kelas. “Kalau di kelas sebelas, ada Sandi yang tinggi itu. Dia sering--yang Ibu dengar--dapat nilai seratus. T'rus, ada juga si Usmanto. Kalian bertiga juga jangan mau kalah.”

Oh, semenjak menjadi murid SMP bulan Juli yang lalu, sejak mendapatkan banyak teman baru (yang tak kalah baik daripada teman-teman yang sudah pindah sekolah), aku baru sadar sering menemukan dua orang yang bernama mirip. Seperti tadi. Di kelas 1-1, ada Sandi, yang menurut aku, berwajah mirip dengan Sadam di Petualangan Sherina. Sandi di kelas 1-1, bertinggi badan yang tak terlalu tinggi. Khas seorang pelajar SMP yang berusia ABG. Wajah Sandi sedikit dipenuhi jerawat. Sandi yang ini juga sama seperti aku. Kami berdua sama-sama berdarah Batak. Sandi dari kelas 1-1 memiliki marga Malau. 

Sementara Sandi kelas 1-2 berdarah Tionghoa. Lebih tinggi dari aku dan Sandi Malau. Wajahnya cukup tampan. Menurut aku, ia mirip artis-artis Mandarin, yang pernah aku tonton beberapa tahun yang lalu, seperti Jimmy Lin, Aaron Kwok, atau Andy Lau. Dari wajahnya saja, sudah terlihat Sandi Cina ini cukup cerdas, meskipun ia tak berkacamata. Yang karena Sandi Cina inilah, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa orang pintar tidak harus identik dengan kacamata. 

Lihat selengkapnya