Padahal caturwulan pertama belum terlewati. Namun, aku dan murid kelas-kelas 1 lainnya sudah beberapa kali mengalami pergantian guru. Tidak hanya berganti jadwal, tapi juga berganti guru.
Sebelumnya sudah pernah diceritakan, guru Bahasa Indonesia, Matematika, dan Fisika yang berganti. Guru Matematika tidak lagi diajar oleh Pak Nelson, yang sekarang fokus mengajar Matematika untuk kelas 3 dan menjadi wakil kepala sekolah. Matematika sekarang diajar oleh Pak Efendi yang bertubuh gendut. Lalu, Fisika diajar oleh Pak Fransiskus. Pak Bonifasius berhenti mengajar karena ingin mengejar sertifikasi guru. Terakhir, Bahasa Indonesia yang sekarang diajar oleh Bu Iyah, yang sekaligus mengajar Bahasa Sunda. Bu Lia dipecat sebagai guru buntut dari pemukulannya terhadap Jimmy.
Eh, terkait Jimmy, sudah sekitar satu bulan ini, dia belum masuk sekolah. Terakhir aku bertemu dengan Jimmy itu saat class meeting yang lalu. Di hari pertama class meeting. Lebih tepatnya lagi, di rumah Anggi. Setelah itu, entah saat upacara bendera, entah saat kegiatan belajar mengajar, Jimmy nyaris tak ditemukan. Kurasa, penyebab absennya Jimmy bukan karena Ibu Lia. Apalagi, menurut apa yang kudengar dari sekretaris kelas, Mareta, tak ada surat sakit. Berarti Jimmy sering tidak masuk sekolah karena ingin bolos sekolah saja.
Ini yang aku maksud. Aku agak kaget, seseorang yang masuk ke dalam kelas itu bukan Pak Silaban. Seorang perempuan berambut dan bertubuh pendek masuk. Ia memperkenalkan dirinya Bu Yunita Nainggolan. Ia mengaku akan mengajar Geografi mulai hari ini. Dari perawakannya pula, sepertinya Bu Yunita ini baru lulus kuliah.
Ternyata dugaan aku benar.
“Iya, kalian benar. Saya Yunita, baru lulus dari FKIP. FKIP itu fakultas keguruan dan ilmu pendidikan,” jawab Bu Yunita kepada Mareta dan Niki yang tadi bertanya. “Saya yang akan mengajar Geografi, menggantikan guru sebelumnya. Guru sebelumnya itu Pak Silaban, kan?”
Niki mengangguk dan berkata, “Iya, guru Geografi sebelumnya diajar sama Pak Silaban.”
“Pak Silaban sekarang fokus jadi kepala sekolah saja,” seru Bu Yunita tersenyum. “Yang saya tahu, begitu sih.”
Selanjutnya, Bu Yunita mulai mengajar materi Geografi. Mareta lalu memberitahukan bahwa sebelumnya Pak Silaban memberikan PR, yaitu membuat peta Indonesia dengan kertas kalkir. Bu Yunita mengangguk dan meminta murid-murid kelas 1 untuk mengumpulkan PR tersebut. Ternyata hanya sekitar sepuluh murid yang membawa tugas tersebut--yang salah satunya adalah aku.
“PR yang diberikan sama Pak Silaban tetap berlaku, yah, di era saya,” seru Bu Yunita yang kedua matanya langsung melotot. “Tetap dimasukkan ke nilai kalian di rapor yang akan dibagikan bulan depan. Minggu depan, yang belum mengumpulkan, wajib mengumpulkan. Paham, yah?”
Sebagian murid-murid kelas 1-1 berteriak dan mengeluh. Yang mengeluh pun kebanyakan murid-murid laki-laki yang terkenal sering membuat gaduh saat guru belum datang. Itu seperti Erik, Yoshi, Yudi, Rio, atau Fernando.