Aduh, berisik sekali pagi ini. Berisik begini, entah mengapa aku malah ingin tidur. Aku pun bingung mengapa teman-teman tidak bisa mengobrol dengan suara sedikit lebih pelan. Yang kulihat juga, masing-masing dari mengobrol. Entah apa yang mereka obrolkan.
Yang ada di sekitar aku sih, salah satunya seperti Santo yang asyik mengobrol mengenai telenovela itu lagi. Itu, loh, telenovela dari Meksiko berjudul Amigos tersebut. Karena bulan lalu sering dibicarakan oleh teman-teman sesama penghuni kelas 1-1, aku sampai ikut menonton telenovela Amigos. Wah, ternyata seru juga, telenovela tersebut. Tidak salah jika Santo menceritakan episode di kemarin selasa dengan cukup berapi-api.
“Si Pedro balik ke Meksiko dari Amerika Serikat,” tutur Santo kepada Mareta yang duduk di samping dirinya. “Ibu tirinya jahat banget. Wajahnya jutek gitu.”
“Itu ibu tiri?” tanya Niki mengernyitkan dahi.
Mareta yang menimpali, “Itu ibu tiri, Nik. Lu nonton nggak, sih? Amanda itu ibu tirinya Pedro. Pedro anak adopsi.”
Niki menggeleng dan berkata, “Kemarin mau nonton, tapi abang gue malah setel MTV, sih. Pengin lihat video klip dari band kesukaannya. Pengin minta ganti channel, takut ribut-ribut.”
Aku lalu mengalihkan pandangan ke arah belakang aku. Segera aku menggeleng-gelengkan kepala, melihat kejahilan Yoshi yang asyik menggoda Patricia. Buku tulis Patricia direbut Yoshi, dan iseng dituliskan sesuatu yang mengganggu Patricia. Yang sudah hampir sebulan ini, tidak hanya Yoshi, teman-teman yang lainnya sepertinya sibuk mencomblangi Patricia dengan Erick. Lagi-lagi, ide menjahilinya masih berasal dari telenovela Amigos.
Kupalingkan pandangan ke arah yang lain. Erick malah asyik mendribel bola basket di dalam kelas. Suara pantulannya lumayan berisik, sebetulnya. Cukup kencang, dan aku yakin kelas sebelah pasti terganggu. Mana Erick memantulkan bola tersebut ke dinding. Astaga, kalau terkena jendela, bagaimana?
“Rick,” seru Yuli dengan mata melotot. “kalau kena jendela, gimana? Mau ganti lu? Ntar satu kelas yang kena getahnya, gimana?”
“Nyantei, sih,” ujar Erick sembari mempraktikkan aksi ala pemain-pemain NBA. Bola itu dimainkan oleh kedua tangannya. Meliuk-liuk gerakannya, dan harus aku akui itu indah kelihatannya. “Nggak bakal kena kaca, Yul. Gue yang bikin kelas kita juara lomba basket, kan. Nggak bakal kena kaca juga.”
DUG!