2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #20

Saat Prakarya Fisika Dikumpulkan

Sudah memasuki bulan Oktober. Hampir tiga bulan aku menjadi murid SMP. Makin lama aku merasakan sungguh terasa perbedaan antara menjadi murid SD dan murid SMP. Bukan sekadar sulitnya untuk bermain sambil belajar--sebagaimana slogan majalah Bobo tersebut, yang menjadi kesukaan aku, setiap mata pelajaran yang diajarkan di SMP ternyata lebih sulit daripada mata pelajaran yang diajarkan di SD. 

Dulu, semasa aku masih SD, yang aku takutkan itu selalu Matematika dan Kesenian atau KTK (Keterampilan Tangan dan Kesenian). Untuk Matematika, aku kurang begitu menyukai angka-angka. Jujur saja, aku baru benar-benar hapal tabel perkalian dan pembagian itu saat kelas 6 SD. Lebih tepatnya, menjelang Ebtanas. Sebelumnya, aku payah sekali dalam hal perkalian dan pembagian. Aku belum menghapal tabel perkalian dan pembagian. Terlebih untuk tabel perkalian yang menurut Sodo, itu mudah untuk dihapalkan. Tabel Perkalian Lima, maksud aku. 

“Astaga, Noel,” ujar Sodo terperanjat. Ia sampai mengernyitkan dahi saking tidak percaya dengan penuturan aku “Tabel Perkalian Lima itu, kan, gampang banget dihapal.”

Aku hanya mengangguk dan menghela nafas. Lalu, saat itu, aku mengamati soal-soal Matematika dengan amat pasrah. Sepertinya aku paham mengapa Nobita amat tidak menyukai Matematika. 

“Begini, Noel,” kata Sodo nyengir. “Setiap ujungnya itu angka dan nol. T'rus, awalnya itu dari angka 1 hingga 5. Kayak begini. Satu kali lima, lima. Dua kali lima, sepuluh. Tiga kali lima, lima belas. Empat kali lima, dua puluh. Begitu terus hingga lima kali sepuluh, yang sama dengan lima puluh. Harusnya gampang. Jangan-jangan Perkalian Nol, lu juga nggak hapal?"

Begitu melihat ekspresi Sodo, aku spontan cemberut. Yah, kalau Tabel Perkalian Nol itu, sih, teramat mudah. Apapun yang dikali nol, jawabannya selalu nol. 

Aku terkekeh-kekeh sendirian di dalam kelas, di saat jam istirahat. Tadi kelas 1-1 baru saja jam Olahraga. Yang setelah jam Olahraga, jam istirahat, lalu jam Bahasa Sunda. Berikutnya, jam Ekonomi. 

Eh, Sodo sendiri bagaimana kabarnya? 

Yang aku dengar, dia masuk pesantren. Atau, menurut Mbak Roh, itu disebut sebagai Madrasah Tsanawiyah. Madrasah Tsanawiyah itu pesantren tingkat SMP. Untuk tingkat SMA, Madrasah Aliyah. Sementara, untuk tingkat SD, Madrasah Ibtidaiyah. Sodo terpaksa masuk Madrasah Tsanawiyah yang berada di luar Tangerang karena kemauan ibu kandungnya. Juga, masih menurut cerita Sodo saat itu, ada semacam pengalaman pribadi, yang membuat dirinya harus lebih serius mendalami agama. Itu bermula karena kejadian saat aku dan dia masih kelas 4 SD. Sodo terpaksa tidak masuk sekolah setelah ditubruk Alfa. Lengannya cidera cukup parah dan sempat mengharuskan Sodo beristirahat di rumah selama kurang lebih tiga minggu. 

Santo mendekati aku. Ia membawa sepiring nasi uduk. Ia duduk di sebelah aku dan berkata, “Dih, ketawa sendiri, kenapa lu?"

Aku menggeleng. “Cuma keinget waktu masih SD aja. Banyak yang bisa diketawain, To.”

Lihat selengkapnya