“Cie, Noel naksir Melati, nih, sekarang,” ledek Sandi Malau dengan suara agak kencang.
Untung saja, tak terlalu banyak orang berada dalam kelas. Lebih bersyukurnya, Melayu tidak berada di kelas hari ini. Lagi-lagi, teman yang aku kenal sejak kelas 6 SD itu sedang absen. Di dalam ruangan kelas, hanya ada lima orang, selain aku. Lima orang itu adalah Santo, Isabela, Niki, Yan, dan si brengsek Sandi.
Santo malah menyebalkan. Ia beringsut ke arah aku dan membisikkan sesuatu, “Lu beneran naksir sama Melati?"
Kedua mataku melotot. Alisku naik setinggi-tingginya, tapi tetap saja tak bisa meniru The Rock, salah seorang pegulat di WWE SmackDown. Astaga, si Santo kenapa? Aku naksir Melati, yang bau badannya cukup menusuk-nusuk hidung?
Sekonyong-konyong aku mengernyitkan hidung seolah-olah Melati sedang berada di sekitar aku. Oh, tidak, bahkan selera aku jauh lebih baik. Vina, teman sekelas aku saat SD, itu bahkan jauh lebih cantik dari Melati.
Sontak aku teringat Vina, yang sudah pindah ke SMPN 1, yang tak jauh dari Robinson Plaza. Vina di sana apa kabar? Sekarang, di sekolahnya yang baru, dia diledeki dekat dengan siapa?
***
Memoriku sekerjap itu saja memutar kenangan sekitar dua tahun yang lalu. Kurang lebih seperti itu. Itu, kalau tidak salah, itu sekitar tahun 1999. Aku dan murid-murid kelas 5 sedang mengikuti mata pelajaran KTK. KTK itu singkatan dari Keterampilan Tangan dan Kesenian. Materi yang diajarkan adalah tata boga, dan murid-murid kelas 5 akan diajarkan cara memasak perkedel. Satu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok. Aku kurang begitu mengingat ada berapa kelompok. Yang jelas, seingat aku, aku sekelompok dengan Vina, Winda, dan Sodo, yang melanjutkan sekolah ke Madrasah Tsanawiyah di kota lain.
Untuk kali pertama, aku bisa sedekat ini dengan Vina. Aku kali pertama mengenal perempuan berdarah Tionghoa itu sejak kelas 1 SD. Aku pindahan dari Strada yang berada di seberang SMPN 1. Aku pindah ke Marius karena tinggal kelas.
Iya, aku dulu pernah tinggal kelas. Penyebab aku tinggal kelas, karena sifat pemalu aku yang begitu menjadi-jadi. Untungnya, wali kelas sekaligus guru les privat saat itu sukses menaikkan kepercayaan diri aku. Aku pelan-pelan tidak lagi malu-malu untuk mengeluarkan setiap potensi aku. Yang awalnya aku berada di peringkat buncit di caturwulan pertama, di caturwulan ketiga, aku langsung masuk ke dalam peringkat sepuluh besar. Bahkan, menurut penuturan Mama, Bu Olvi sempat dituduh melakukan kecurangan agar aku bisa naik kelas. Jelas-jelas aku bisa masuk sepuluh besar karena kegigihan Bu Olvi yang terus menyemangati aku agar tidak pemalu dalam kelas. Wah, dulu itu, aku pemalu sekali. Aku ingat sempat ikut mengumpet di bawah kolong meja bersama Sodo. Itulah kenapa aku cukup akrab dengan Sodo. Sodo itu dulu rekan satu kolong meja dengan aku. Saat kelas 1 SD, aku dan Sodo sering bersembunyi di kolong meja selama kegiatan belajar mengajar.
Kembali ke persoalan Vina.