2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #22

Pembagian Rapor Caturwulan

Tiba juga saat pembagian rapor untuk murid-murid SMP. Pembagian hasil belajar selama satu caturwulan pertama. Tidak perlu memanggil orangtua. Papa dan Mama tidak perlu ke sekolah kali ini. Cukup aku saja yang ke sekolah untuk mengambil rapor. Syukurlah, kalau begitu. 

Sebetulnya untuk pembagian rapor kali ini, tidak semua murid-murid kelas 1 SMP yang mendapatkan keuntungan seperti aku. Untuk murid-murid yang cukup bermasalah, jauh-jauh hari sudah mendapatkan surat panggilan dari sekolah, agar orangtuanya datang ke sekolah. Contohnya itu seperti Fernando, yang saat classmeeting, ia disuruh datang ke ruang kepala sekolah, untuk mengambil surat panggilan. Kedua orangtuanya--atau bisa salah satu--harus datang bersama Fernando agar rapor bisa diambil. Jika tidak, buku rapor tidak boleh diambil. 

Wah, sepertinya nilai-nilai Fernando di caturwulan pertama cukup kebakaran jenggot. Sampai-sampai ia harus datang ke sekolah bersama kedua orangtuanya. Jujur, aku akui Fernando bukanlah murid yang cukup cerdas. Dulu, saat masih SD, nilai-nilainya lebih sering di bawah aku. Itu termasuk untuk mata pelajaran Matematika yang aku benci. Kelebihan Fernando justru berada di Olahraga. Pernah kulihat, nilai Olahraga dia itu selalu yang paling bagus di rapor. Selalu dapat 8 di antara pelajaran-pelajaran yang lainnya. 

Lihat saja aksi Fernando mendribel bola basket. Aku sangat terkesima. Seperti pemain bola basket profesional saja. Ia, Ferly, Yosua, dan Erick sedang bermain bola basket. Dua lawan dua. Hanya setengah lapangan bola basket. Fernando dan Ferly melawan Yosua dan Erick. 

Sekonyong-konyong Yoshi menghampiri aku. Ia menyodorkan aku sebotol air mineral. Aku menolaknya halus seperti biasanya. Aduh, kapan rasa malu aku berkurang sedikit demi sedikit? 

“Nggak apa-apa,” kata Yoshi nyengir. “Minum aja. Kena bibir lu juga nggak apa-apa. Nggak usah malu-malu juga. Di sini, teman-teman lu pada baik-baik, Noel.”

Aku terkekeh-kekeh. Lalu aku mengambil botol itu dari Yoshi. Kuberanikan diri untuk minum di hadapan Yoshi dan orang-orang yang melintas. 

Yoshi tertawa. “Hahaha… main basket, mau nggak? Daripada bengong. Gue di tim Erick, lu di tim Fernando. Belajarlah, Noel, main basket. Gue heran aja sama lu. Betah banget, cuma bengong waktu kelas Olahraga.”

Aku hanya mengangguk dan terkekeh-kekeh. 

Dari arah tiang basket, Erick berteriak, “Yos, si Noel jangan digangguin, lah. Nggak ada balon. Nanti didatengin bokap sama nyokap dia."

Fernando menimpali, “Pintar dia, Rick. Nggak akan datang, kan, Noel, ortu lu?”

Aku mengangguk. 

Lihat selengkapnya