2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #24

Saatnya Pembalasan!

Sudah berakhir liburan akhir caturwulannya. Ini juga sudah hari kamis. Jam pertama adalah Olahraga, yang seperti biasanya. Materi yang diajarkan oleh Pak Maruap, masih tetap sama. Permainan bola basket, dong. 

Yang masih tetap sama. Beberapa murid kelas 1-1 memaksa aku untuk ikut mendribel dan melemparkan bola ke ring. Ah, ternyata perintahnya dari Pak Maruap sendiri. Beliau menghampiri aku sembari terkekeh-kekeh. 

“Bapak melakukan ini,” ucap Pak Maruap tersenyum dan memukul punggung aku pelan. “demi kebaikan kamu juga, Noel. Ikutlah main basket bareng teman-teman kamu. Jangan kabur atau bengong-bengongan saja di pinggir lapangan.”

Erick ikut menimpali, “Salah itu wajar, kok, Noel. Gue juga, meski bawa kelas kita juara waktu classmeeting itu, ada kalanya pernah juga bikin kesalahan. Nggak selamanya bolanya masuk ring. Nih, coba lu lihat."

Lalu Erick menerima bola yang dilemparkan Yoshi yang tadi baru saja memasukkan bola ke ring selama beberapa kali. Tampaknya Erick bersiap melemparkan bola basket ke dalam ring. Pembawaannya seperti pemain bola basket profesional saja. Menurut aku, pasti bola itu masuk ke dalam ring. Nyatanya, dugaanku meleset. Bola itu membentur papan kayu di sekitar ring, yang bertuliskan merek restoran donat yang cukup aku sukai sejak kecil. 

***

Omong-omong, tentang merek restoran donat tersebut, aku memiliki kenangan tersendiri. Itu terjadi saat pembagian rapor caturwulan tiga di kelas 2. Lagi-lagi aku meraih juara tiga. Juara pertama, ah, sudah tentu Willy. Juara keduanya adalah Vina. Untuk kali pertama, peraih juara pertama, kedua, dan ketiga mendapatkan hadiah, selain piagam. Akan tetapi, yang paling enak tetap saja Willy dan Vina. Mereka berdua mendapatkan piagam, piala, beasiswa selama satu tahun, voucher makan di restoran donat, dan merchandise menarik. Sementara aku yang menjadi juara tiga, hanya mendapatkan piagam, potongan uang sekolah sebesar 50 persen, dan merchandise menarik dari restoran donat tersebut. Saat itu pula, sekolah aku, yang aku dengar, sedang menjalin kerjasama dengan restoran donat tersebut. 

Di luar kelas, sembari menunggu Mama keluar setelah mengambil rapor, aku mengeluh. Sodo mendekati aku, nyengir, dan berkata, “Jadi juara ketiga, kok, ngeluh, Noel. Gue aja syukur alhamdulilah cuma peringkat keempat. Lumayan, bisa mengurangi beban ekonomi keluarga gue.”

Peringkat keempat pun mendapatkan potongan uang sekolah. Namun tidak sebesar potongan sekolah yang aku terima. Menurut penuturan Sodo, potongannya hanya sekitar 25 persen. Uang sekolah yang aku dan teman-teman bayarkan itu sekitar Rp 100.000.

“Coba, Noel,” kata Sodo nyengir. “25 persen dari Rp 100.000 berapa?”

Aku menghela nafas. Sodo ini kelihatannya tahu sekali aku cukup lemah dalam berhitung. Jemari aku sibuk menghitung. Aduh, perkalian lagi. Aku mana hapal perkalian dan pembagian. 

Sodo tertawa terbahak-bahak. 

Lihat selengkapnya