2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #26

Petasan, oh, Petasan

Masih bulan Ramadhan. Aku masih bersekolah. Sekolahku, Marius, tidak menerapkan liburan sepanjang bulan Ramadhan. Libur Ramadhan hanya satu hari. Selanjutnya, murid-murid SMP Marius diwajibkan untuk masuk sekolah. Seperti hari ini. Masih sesuai jadwal. Yang tidak datang ke sekolah, dicatat sebagai sebuah ketidakhadiran. 

Selain sekarang bulan Ramadhan, sebentar lagi mau Natal. Seperti kebiasaan di tahun-tahun sebelumnya, menjelang Natal di 25 Desember, Papa dan Mama sering mengajak aku dan anggota keluarga lainnya untuk berbelanja pakaian Natal. Mama sering pergi ke Ciledug akhir-akhir ini. Kata Mbak Roh, tadi Mama pergi ke Ciledug untuk menghampiri penjahit langganannya. Untuk minta dijahitkan kebaya. Mama memang seperti itu. Beliau senang sekali mengenakan kebaya setiap Natal dan Tahun Baru. Tahun lalu pun sama. 

Aku baru pulang sekolah juga. Begitu pulang, aku minta dibuatkan mi instan. Sembari menunggu dibuatkan Mbak Roh, aku sempatkan untuk mandi. Setelah mandi yang tak lama, aku bergegas ke dapur. Aduh, aku mohon maaf, deh. Semangat, Mbak, yang sedang berpuasa. Jangan sampai batal, deh. Ini seharusnya aku sendiri yang membuat mi instan. Membuat mi instan itu cukup mudah sebetulnya. Saat masih SD, aku sering membuat mi instan sendiri. Dulu itu, pembantu rumah tangga yang bekerja sebelumnya, pernah mengajarkan aku untuk memasak instan. 

“Udah jadi, nih,” kata Mbak Roh yang meletakkan rebusan mi ke dalam mangkok. 

“Makasih, Mbak,” balasku, lalu membawa semangkok mi instan ke ruang tengah. 

Kubawa semangkok mi tersebut ke ruang tengah. Aku akan makan mi instan dengan telur rebus campurannya sambil membaca tabloid Fantasi. Tabloid Fantasi merupakan favorit bacaan aku selain Donal Bebek dan Bobo. Aku suka membaca cerita-cerita yang dimuat di sana. Cerita-cerita buatan para penulis itu bagus-bagus. Apa aku bisa membuat cerita seperti mereka? Ah, tapi aku masih minder untuk menulis sebuah cerita ke redaksi Fantasi. 

Di tabloid Fantasi, ada ulasan tentang telenovela itu lagi. Itu, loh, yang sering dibicarakan teman-teman sekolah. Amigos x Siempre. Menurut ulasan yang aku baca, telenovela itu akan menuju episode terakhir. Wah, aku menjadi tidak sabar dengan tayangannya nanti di jam dua siang. 

DUAR! 

Aku kaget bukan kepalang. Tak hanya aku yang keluar, Mbak Roh pun ikut keluar. Ternyata ada anak-anak komplek yang sedang bermain petasan. Salah satunya itu Adit. Begitu aku menoleh ke Adit dan kawan-kawan, ia dan yang lainnya tertawa terbahak-bahak. 

Lihat selengkapnya