Sebetulnya ini adalah hari tenang. Aku baru tahu istilah ini dari Kak Irma. Sekolahnya sering meliburkan murid-murid setiap menjelang ujian akhir semester. Nah, entah bagaimana ceritanya sekolah Marius pun ikut-ikutan.
Padahal, saat aku masih SD, tidak ada istilah hari atau minggu tenang. Tidak ada perbedaan antara hari belajar biasa dan hari-hari ujian, baik itu ulangan harian maupun ulangan umum. Aku baru kali pertama ini mengalami momen seperti ini.
Sayangnya, di hari yang katanya hari tenang inilah, aku harus masuk sekolah. Ada beberapa kewajiban administrasi yang aku harus selesaikan. Salah satunya adalah harus membayar uang sekolah bulan Desember. Jika tidak membayar, konsekuensinya adalah tidak bisa mengikuti ujian akhir semester. Begitulah yang didengung-dengungkan oleh Pak Silaban saat upacara tadi. Belum membayar kewajiban administrasi, maka tidak diberikan kartu ujian. Jika tidak mendapatkan kartu ujian, jangan harap kita bisa mengikuti ujian akhir semester. Jika tidak mengikuti ujian akhir semester, itu artinya tinggal kelas.
Aku masih berdiri di depan ruang administrasi sekolah Marius. Ada beberapa murid-murid yang menunggu di depan ruang administrasi. Ada yang berdiri seperti aku. Ada pula yang duduk di lantai. Ada yang belajar persiapan ujian. Ada pula yang mengobrol, bermain game boy, membaca komik, hingga bermain futsal di lapangan voli, yang tadi digunakan sebagai upacara.
Sandi Malau masuk ke dalam ruang administrasi. Melati keluar dari ruangan. Berengsek si Sandi. Ia malah meledek aku, “Cie, Noel. Tuh, pacarnya. Temenin, dong. Gandeng tangannya.”
Harus berapa kali aku katakan bahwa aku tidak naksir Melati? Seleraku bukanlah Melati. Idih, siapa juga yang suka gadis bau dengan wajah penuh jerawat.
Leo hanya nyengir. Ia memukul pundakku. Tak sakit. Aku tahu ia memukul itu bukanlah sebagai niat untuk menggangguku. Itu hal biasa di antara sesama laki-laki yang memukul bahu atau punggung. Yosua bilang, itu tanda solidaritas. Memukulnya pun tidak sakit-sakit amat.
Oh, temanku, Melati, akhirnya baru masuk sekolah setelah libur caturwulan yang lalu. Memang benar isunya. Ia tidak masuk sekolah karena problematika keluarganya. Ayahnya terus menerus Melati agar pulang kampung ke Sumatera Utara. Melati tidak mau dengan alasan dirinya sudah kerasan di Tangerang. Usut punya usut, Melati memang sengaja diungsikan ke Tangerang, karena ayahnya yang pemabuk itu cukup ringan tangan. Jika sudah minum tuak, kata-kata kasar langsung keluar. Sedikit-sedikit main pukul, cubit, atau jambak. Itulah ternyata alasan Melati dibawa lari oleh keluarga adik dari mendiang ibu kandung Melati.
Sebetulnya aku sudah mengetahui cerita tersebut saat kelas 6 SD. Tiga bulan sesudah kematian Mayang. Aku kira kondisi Melati sudah membaik. Nyatanya, belum. Ayahnya yang pemabuk, terus menerus memaksa Melati untuk pulang. Melati pun bersikeras tidak mau. Bahkan, di rumah pamannya, Melati mengaku tidak nyaman. Namun ia harus sadar diri bahwa dirinya hanya menumpang. Tidak boleh iri dengan perlakuan paman dan istrinya kepada ketiga sepupunya.
Leo berbisik di telinga aku, “Lu beneran naksir Melati, Noel?”
Aku terkekeh dan menjawab, “Yah, nggak, lah. Tapi, Melati itu orangnya baik, sih. Kasihan aja, dia harus nanggung setiap masalah itu sendirian. Nyokapnya udah meninggal. Bokapnya suka mukul dan tukang mabuk. Duh!”
Leo ikut menggelengkan kepala dan berkata, “Iya, sih, gue juga kaget waktu dengar ceritanya dari anak-anak.”