2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #30

Ternyata Pembagian Rapor Masih Lama

Pembagian rapor-nya masih lama. Pembagian rapor di bulan Juni. UAS yang kemarin itu hanyalah sebuah uji coba terhadap sistem baru yang menggunakan sistem semester dan bukan lagi caturwulan. Walaupun demikian, nilai-nilai setiap murid di UAS yang sudah berlalu, tetap akan dimasukkan ke dalam penilaian rapor. Lalu, untuk murid-murid kelas 3, UAS kemarin dianggap sebagai try-out test menjelang UAN yang konon akan diselenggarakan di bulan Mei. Try-out test sebenarnya tetap akan diselenggarakan di bulan April. 

Banyak murid kelas 3 bersorak. Riuh sekali suasana di lapangan basket saat upacara, yang entahlah ini upacara apa. Bagian pengibaran bendera dilewatkan. Langsung masuk ke bagian kata-kata dari pembina upacara, yang dalam hal ini adalah Pak Silaban. Pak Silaban malah cengar-cengir melihat reaksi murid-murid kelas 3.

“Yah, Bapak minta maaf,” seru Pak Silaban dari atas podium kecil. “Tapi, ini semua demi kebaikan sekolah kita. Jangan lagi Marius lebih dikenal sebagai sekolah buangan. Kelak lulusan Marius harus lebih menggigit. Harus lebih sering muncul di UMPTN dan sekolah-sekolah swasta favorit di Tangerang. Juga, harus lebih sering eksis di perusahaan-perusahaan kenamaan. Itulah maunya Bapak, jajaran guru dan staf, hingga Kepala Yayasan Marius.”

Sejenak Pak Silaban melirik seorang pria tua beruban dan mengenakan kemeja safari berwarna biru. Kata Santo, nama beliau Johannes Rajagukguk. Beliau merupakan Kepala Yayasan Pendidikan Marius. Konon, menantunya merupakan kepala sekolah di SMK Marius. 

Aku terkekeh-kekeh. Kali ini aku berdiri di belakang Sandi Malau. Bosan juga aku, yang selalu berdiri di bagian terdepan setiap ada upacara begini. 

Santo mengernyitkan dahi dan berkata, “Kenapa lu?”

“Nggak,” ujarku pelan. “Gue cuma keinget sama telenovela Amigos, To. Kenapa jadi mirip Amigos? Di Amigos juga, jabatan kepala sekolah dipindahkan ke anaknya. Bahkan sampai ribut-ribut nggak jelas.”

Santo mengikik dan berbisik, “Iya, yah.”

Sandi Malau melirik ke belakang dan ikut menimbrung, “Tapi, udah tamat, yah, Amigos. Sayang banget. Pengin gue, terus aja gitu. Penasaran sama hubungan Anna dan Pedro. Serasi menurut gue.”

Niki yang berdiri di samping aku ikut berkata, “Iya, iya, gue juga sama.”

Lihat selengkapnya