Tak terasa sudah masuk tahun 2002. Begitu cepat waktu berlalu. Aku pun sudah menjadi murid SMP selama enam bulan. Banyak hal sudah terjadi, sih. Setiap ketakutan aku sebelum Mos ternyata tak terbukti. Ternyata setelah dijalani, asyik-asyik saja. Tak terlalu begitu bermasalah dengan pergaulan.
Sebenarnya, hal yang paling sering aku takutkan itu pergaulan. Tentang teman-teman. Sejak aku datang di saat pengumuman kelulusan SD, betapa cemasnya aku akan pergaulan. Apalagi begitu tahu, sebagian teman-teman SD aku memutuskan untuk melanjutkan sekolah bukan ke SMP Marius, wah, aku langsung ketar-ketir. Pikiran itu selalu muncul. Itu seperti: ‘Yang baru nanti sebaik yang lama, nggak?’
Yang ternyata setelah dijalani, yang baru pun masih sebaik yang lama. Walaupun demikian, aku bisa bersosialisasi dengan murid-murid baru dari luar Marius, jujur saja itu pun berkat teman-teman aku yang memutuskan untuk melanjutkan sekolah ke SMP Marius. Terima kasih sekali lagi kepada Yosua, Alfa, Fernando, Ferly, hingga Rio.
Iya, aku bahkan bersyukur memiliki teman seperti Rio. Rio ini salah satu teman yang aku kenal sejak kelas 1 SD, yang sejak memutuskan pindah ke Marius dari salah satu SD Katolik yang letaknya cukup jauh dari rumah aku. Dikatakan teman yang baik, tidak juga. Ah, sejak sama-sama masih SD, Rio ini menyebalkan. Sering menggangguku. Ibarat kata, Rio itu Takeshi Gouda, dan aku adalah Nobita Nobi. Setiap bertemu dengan Rio, bawaannya kesal melulu. Dia pun sepertinya senang sekali menggangguku. Sampai sekarang, aku masih mengingat kejadian saat kelas 4 SD. Bagaimana Rio memaksa aku untuk memberikan contekan PR Matematika. Sudah kubilang, aku juga belum selesai mengerjakannya. Dia malah mencak-mencak. Begitu tahu belum selesai mengerjakannya, dia seenaknya memaki dan menjambak rambut aku. Kubalas dengan memukul kepalanya kencang. Eh, dia malah mengadu ke Bu Sri, wali kelas aku saat itu. Aku yang terkena getahnya. Aku disetrap dengan cara berdiri di lapangan--menahan panas yang gila-gilaan.
Saat kami berdua sudah SMP, tetap saja Rio tidak berubah. Masih aku ingat saat dirinya mengejar aku hingga ke rumah hanya karena tidak meminjamkannya komik. Padahal aku sudah sering berkata, sudah aku pinjamkan ke Roni terlebih dahulu. Duh, ada juga jenis manusia seperti Rio itu. Namun, jika kalau bukan karena Rio, mungkin aku tidak akan pernah akrab dengan Roni, temanku yang cukup jago bermain bola basket, penggemar Harry Potter, serta cukup mengerti alur cerita Dragon Ball. Rio juga yang pernah menyelamatkan aku dari dipalak Zaenal, Chandra Buluk, dan Ryan Bongsor. Kejadiannya itu di bulan November yang lalu. Saat bulan Ramadhan, dan belum disibukkan dengan ujian di bulan Desember.
Haha. Aku tertawa mengingat temanku bernama Rio. Bisa begitu. Ada juga jenis manusia yang terkadang menyebalkan, terkadang pula menyenangkan. Seperti Rio itu.
Oh iya, hari ini ulang tahun adikku, Christy, yang ke delapan. Seperti perayaan ulang tahun yang sudah-sudah, tentu saja dirayakan dengan makan bersama di Restoran Pondok Lauk. Jika tidak di sini, yah, di Restoran Kisamaun. Seharusnya, sih, di Kisamaun. Hanya saja, di Kisamaun, sedang berlangsung acara resepsi pernikahan. Mau tidak mau, di Pondok Lauk, yang sedikit lebih jauh. Agak lama juga, acara makan-makannya. Kurang lebih berlangsung selama tiga jam. Selanjutnya aku dan keluargaku pulang ke rumah. Acara berikutnya adalah tiup lilin dan potong kue. Tadi juga Christy minta kado. Kado yang diminta adikku ternyata tidak mahal. Dia minta bingkisan berisi aneka kudapan yang sudah dipersiapkan Mama untuk acara arisan keluarga besok. Mama segera mengabulkan. Christy yang sudah kelas 3, senang sekali menerimanya. Yang kuperhatikan, kedua matanya sangat berbinar-binar. Terkadang aku cukup belajar banyak dari adik kandung aku sendiri tentang apa itu kepercayaan diri dan keoptimisan.