2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #32

Antara Ucapan Sepupu dan Buku Paket Bahasa Indonesia

Tidak biasanya turun hujan di pagi hari. Untungnya, hujan baru turun setelah bel sekolah berbunyi. Aku tidak kehujanan saat berangkat ke sekolah dengan ojek. Sebelumnya, memang tidak turun hujan. Selama masih di rumah, tidak ada tanda-tanda hujan. Ah, mana hujannya cukup deras dan disertai petir segala. 

Jam pertama itu adalah Bahasa Indonesia. Bu Iyah belum kunjung datang. Tadi sempat dengar desas-desus dari beberapa murid. Mau ada guru baru untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bukan Bu Iyah yang mengajar Bahasa Indonesia lagi. Bu Iyah kelak hanya mengajar Bahasa Sunda. 

Suasana kelas berisik sekali. Bahkan suara teman-teman sekelas mengalahkan suara hujan segala. Ini lagi, si Yuli, entah apa sebab dia berteriak? Yoshi juga, buat apa dia senang sekali menjahili Yuli atau Fani? Naksir? 

Kali ini aku duduk di dekat jendela. Rekan satu mejaku masih tetap sama. Si Santo itu, yang sering diledek teman-teman sesama murid kelas 1 ‘Bencong Taman Lawang'. Eh, Taman Lawang itu di mana, sih? 

Santo terkekeh-kekeh dan menanyakan sesuatu kepadaku, “Kadang gue suka bertanya-tanya, Noel. Isi kepala lu, tuh, apa? Hobi banget ngelamun.”

Aku hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan aktivitas membaca buku paket Bahasa Indonesia. 

Santo terus menerus menggoda aku dengan mengajukan pertanyaan yang sama, “Lamunin apaan, sih, Noel? Melati, yah? Tuh, orangnya.”

Aku menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Santo. Akhirnya Melati masuk sekolah juga. Sebetulnya temanku ini sudah mulai masuk sekolah sejak bulan Ramadhan yang lalu. Tak sia-sia Pak Monang mengutus beberapa perwakilan kelas untuk menjenguk Melati. Kasihani juga dengan apa yang menimpa Melati. Semoga penderitaannya segera berakhir. Semangat, Melati, ujarku dalam hati sembari mengacungkan tangan. 

Sekonyong-konyong Melati menoleh ke arah aku pula. Dia tersenyum. Aku sedikit bergidik. Astaga, entah mengapa aku tidak melihat itu sebagai sebuah senyuman. Ih, seram! 

“Cie, Noel,” ledek Santo yang main mencubit pipiku yang menurutnya seperti bakpau saja. “Cinta bersemi di ruang kelas 1-1. Udah, bilang aja ke Melati, I love you so much, Melati. Atau, mau gue yang ngomong?”

Aku belum memberikan perintah, si Santo malah melakukannya lebih dahulu. Ia setengah berteriak ke arah Melati, “Melati, ada yang kangen sama lu! Noel suka sama lu!”

Melati tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum ke arah aku. Menurutnya, senyumannya itu manis. Untuk aku, itu bukan sebuah senyuman. Aduh, mendadak perutku mulas sekali. Tanpa sengaja aku kentut. Kentutku bau juga. Jangankan aku, Santo sampai spontan menutup hidung. 

“Lu kentut, yah, Noel?” tanya Santo menatap aku galak. Ia masih menutup hidung. 

Aku hanya cengar-cengir tak keruan. 

“Bilang-bilang dulu kenapa?” kata Santo sewot. “Makan apa sih tadi pagi? Bau bener!”

Aku spontan tertawa terbahak-bahak. Pun aku tidak tahu apa yang kumakan sampai kentutku bau sekali. Ramot yang duduk di belakang aku, ikut kebauan. Ia memukul aku dengan penggaris plastik sepanjang 20 cm. 

Lihat selengkapnya