2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #34

Besok Imlek, dan Libur!

“Besok,” kata Yosua terkekeh-kekeh sembari menyalin pekerjaan rumah dari LKS milikku. “Doni, Suhandi, Firman, sama Mareta, matanya pada melek.”

Beberapa murid di sekitar Yosua tertawa. Hanya aku yang tidak tertawa. Dahiku berkerut untuk bisa memahami apa yang diucapkan oleh Yosua. Kebingungan yang bercampur dengan kekesalan. Begitu lelahnya aku mengerjakan soal-soal Fisika di LKS tersebut, Yosua dan lainnya tinggal menyalinnya saja. 

Sebetulnya aku kesal. Namun apa boleh buat. Selain kasihan, ada sesuatu hal dalam diriku yang memaksa aku untuk membiarkan mereka mencontek jawaban. Salah satunya itu tentang persahabatan. Biarlah setiap pagi aku dikejar-kejar untuk diminta contekan. Yang penting mereka tetap baik kepada aku. Mau terus menjalin persahabatan dengan aku hingga kelulusan SMP nanti. Persahabatan jauh lebih penting daripada sekadar nilai di rapor. 

Yoshi terkekeh. “Si Noel bingung, tuh, Yosua.”

Yosua menyambit aku dengan penggaris dan berkata, “Besok kan Imlek, Noel. Hari libur. Tanggal merah. Dan, rata-rata orang Cina terima angpau waktu Imlek. Melek semua matanya.”

Tertawa lagi Yosua. Menyusul yang lainnya. Aku hanya tertawa kecil setelah mengetahui apa maknanya. Oh, ternyata itu hanya permainan kata-kata. Sama-sama berakhiran ‘lek’. Imelek dan Melek. Boleh juga, lelucon yang diutarakan Yosua tadi, meskipun aku sedikit ngilu mendengarnya. Agak terdengar sebagai sebuah ledekan. 

Iya, besok, hari selasa adalah tanggal 12 Februari. Itu adalah hari Imlek. Tahun Baru versi kepercayaan orang Tionghoa. Di sekolah Marius, tak terlalu banyak yang Tionghoa. Di kelasku saja, ada Mareta, Firman, Doni, Suhandi, Isabela, dan Wahyudi. Di kelas sebelah, setahuku, hanya Sandi--yang lebih tinggi dari Sandi Malau, dan Mayke. Entahlah, bagaimana dengan jumlah murid dari etnis Tionghoa di kelas-kelas lainnya. Maksudku, para kakak kelas. 

Sebelumnya, tradisi Imlek belum menjadi hari libur. Yang beretnis Tionghoa tetap masuk sekolah saat datangnya Tahun Baru Cina. Barulah pada tanggal 19 Januari 2001, Menteri Agama--melalui Keputusan Menteri nomor 13/2001--menetapkan Imlek merupakan hari libur nasional. Tahun lalu Imlek jatuh pada tanggal 24 Januari, dan sekolah libur. 

Mendadak aku teringat kejadian beberapa tahun yang lalu. Aku lupa tanggal dan tahunnya. Namun, itu saat aku masih SD. Mungkin itu saat aku kelas 2 SD. Yang di tengah-tengah Bu Rohani sedang menjelaskan materi PPKn (saat itu bernama PPKn, dan singkatan dari Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan). Pintu kelas sontak diketuk dari arah luar. Ternyata Bu Sutarminah membawa ibunya Vina. Ibu Sutarminah, sang kepala sekolah, meminta izin BU Rohani agar Vina dibiarkan meninggalkan kelas dan sekolah di tengah-tengah jam pelajaran sekolah. Ibunya berkata, Vina harus mengikuti tradisi Imlek di keluarganya, yaitu sembahyang Tahun Baru Imlek di kelenteng. Bu Rohani memberikan izin. Lalu ibunya Vina memberikan amplop yang ternyata berisi uang senilai Rp 50.000. Dengan mata berbinar-binar Bu Rohani menerimanya dan berterimakasih. 

Setelah itu, yang aku ingat Vina dan Willy selalu meminta izin setiap perayaan Imlek. Saat itu, Imlek belum menjadi hari libur nasional. Murid-murid Tionghoa tetap masuk. Jika tidak menyampaikan surat ke kelas, bila mana mereka tidak hadir di kelas, akan dianggap membolos. Itu akan cukup berpengaruh ke isi rapor. Terkadang aku kasihan dengan murid-murid beretnis Tionghoa setiap menjelang Imlek. Satu hari sebelumnya, mereka harus meminta izin ke sekolah. 

Lihat selengkapnya