“Cie, Erick,” sahut Milka meledek Erick. “Lagi nembak, nih, ceritanya.”
Langsung saja aku melirik sebentar ke arah deretan belakang aku. Aku masih duduk di deretan depan dan tak jauh dari pintu masuk ruangan kelas.
Terlihat murid-murid yang sering membuat gaduh--yang duduk di bangku-bangku deretan belakang--menggoda Erick dan Patricia. Santo bilang, Erick baru saja memberikan coklat ke Patricia.
“Apaan sih, Mil?” sembur Erick yang cengar-cengir tak keruan. Ia lalu memperagakan aksi akrobatik dengan bola basket. Erick ini sepertinya benar-benar menyukai permainan bola basket. Bahkan di balik seragam kotak-kotak biru-hitam, ada kaus basket.
Erick menoleh sebentar ke arah Milka dan berkata, “Kan, lu juga dapet.”
Milka sok mengambek. “Ih, sama Patricia doang yang dikasih Toblerone. Gue sama yang lainnya, kenapa cuma Silverqueen?”
“Bersyukur ada yang kasih di hari Valentine,” dalih Erick, lalu memantulkan bola basket ke dinding. Tampaknya Erick cukup berhati-hati agar tidak mengenai jendela. “Silverqueen juga coklat batangan juga.”
“Iya, iya, tahu, deh,” sindir Nila manyun. “Yang udah kesengsem sama Patricia.”
“Apaan sih, Nila,” ujar Erick yang menghentikan aksi akrobatik dengan bola basket. “Gue kasih Toblerone ke Patricia sebagai ungkapan terima kasih. Dia udah sering baik banget ke gue. Nggak lebih.”
“Pret, Rick!” semprot Yuli. “Wajah lu menunjukkan sebaliknya. Berdusta kamu ini, Rick.”
Erick hanya terkekeh-kekeh, lalu segera mengambil pakaian olahraga dari dalam tas dan menuju toilet yang berada di lantai satu.
Sementara Patricia, kulihat-lihat, menghabiskan Toblerone dengan wajah yang kelihatannya memiliki perasaan khusus untuk Erick. Mungkin Patricia benar-benar menyukai Erick.
Sekarang ini hari Valentine. Katanya Valentine itu adalah hari kasih sayang. Hari di mana kita memberikan rasa kasih sayang yang agak berlebihan ke orang yang kita cintai dan tidak harus pacar. Yah, begitulah yang aku tangkap dari informasi yang berasal dari tabloid Fantasi.
Omong-omong tentang hari Valentine, yang aku dengar, di bioskop, sedang tayang film Indonesia lagi. Judulnya “Ada Apa dengan Cinta”. Produsernya masih tetap Mira Lesmana, yang memproduseri “Petualangan Sherina”. Sutradaranya Riri Riza juga.
Aku terkekeh-kekeh memperhatikan Sandi Malau. Ya, ampun, Sandi. Kamu sadar, tidak, betapa mirip kamu dengan si Sadam di “Petualangan Sherina”. Apa kamu tidak berniat ikut serta acara televisi yang diperuntukkan ke orang-orang yang mirip selebrita?