2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #37

Bukan Melati yang Aku Taksir

Tak terasa sudah enam bulan aku menjadi murid SMP. Menjadi murid SMP itu pun tak buruk-buruk amat. Tidak semenakutkan yang aku kira sebelumnya. Tak masalah pula, jika ada beberapa teman SD yang tidak lagi bersekolah di Marius. Itu seperti Willy (yang hijrah ke Kalimantan), Vina (di SMPN 1), atau Sodo (yang lebih memilih untuk masuk ke lingkungan pesantren). Ah, teman-teman baruku ternyata tak kalah asyik dari teman-teman lama yang akhirnya memutuskan pindah sekolah. 

Ada Sandi Malau, yang dulu pernah aku katakan mirip dengan Sadam di Petualangan Sherina. Sandi itu pintar, humoris, meskipun terkadang dia menyebalkan. Ada pula Roni yang jago bermain bola basket, tapi ternyata Roni lebih anak mami daripada aku. Rasa-rasanya aku tidak percaya dengan kata-kata Anggi saat itu. Ada juga Santo, walaupun suaranya mirip bencong, aslinya Santo tidak kemayu. Dia bahkan lebih tegas dari Chandra Batak, yang wajah seram, tapi… oh tidak, aku spontan tertawa terbahak-bahak jika mengingatnya lagi. 

Hari ini hari kamis. Jika bersekolah di sekolah Katolik, aku seharusnya libur seperti Kak Irma dan Christy. Ah, enaknya mereka berdua yang seharian di rumah. Sementara aku harus di dalam ruangan kelas sejak jam tujuh pagi hingga jam dua belas siang. Kakak dan adikku libur hari Kamis Putih. Kamis Putih merupakan peringatan perjamuan makan terakhir Yesus bersama kedua belas murid. Mereka berdua libur hingga hari senin. 

Oh, iya, tadi sepulang sekolah aku berjumpa dengan Dean. Dean itu alumni SD Marius juga. Dia pindah dari Pray ‘n Work ke Marius sejak kelas 5 SD. Alasannya sama seperti aku, yang pindah ke Marius karena alasan tinggal kelas. Begitu lulus dari EBTANAS, Dean kembali menjadi bagian dari Pray ’n Work. Dia bersekolah di SMP yang tak jauh dari rumahnya yang berada di kawasan BSD. 

“Gimana kabar, Noel?” tanya Dean, yang tahu-tahu sudah gondrong saja rambutnya. Seperti biasa, ia main mencubit pipiku yang tembam. Dengan alasan yang sama, Sandi Malau sering mencubit pipiku juga. 

Aku hanya mengangguk. 

Dean terkekeh. “Masih aja pemalu lu, yah. Udah SMP juga. Eh, apa jangan-jangan udah punya pacar?”

Aku tetap hanya tertawa, walau kali ini sembari menggelengkan kepala. Sekejap itu pun aku menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya. 

Cinta, yah? 

Sekonyong-konyong aku teringat dengan obrolan aku dan beberapa teman tahun lalu. 

***

Lihat selengkapnya