Besok ada ulangan Sejarah. Ada ulangan Komputer juga. Wah, dua ulangan dalam satu hari. Apa bisa aku belajar dua mata pelajaran?
Eh, bukannya belajar, aku sekonyong-konyong teringat dengan kejadian saat Valentine kemarin. Aku mendadak penasaran dengan film Ada Apa Dengan Cinta tersebut. Baguskah?
***
“Cie, Erick,” sahut Milka meledek Erick. “Lagi nembak, nih, ceritanya.”
Langsung saja aku melirik sebentar ke arah deretan belakang aku. Aku masih duduk di deretan depan dan tak jauh dari pintu masuk ruangan kelas.
Terlihat murid-murid yang sering membuat gaduh--yang duduk di bangku-bangku deretan belakang--menggoda Erick dan Patricia. Santo bilang, Erick baru saja memberikan coklat ke Patricia.
“Apaan sih, Mil?” sembur Erick yang cengar-cengir tak keruan. Ia lalu memperagakan aksi akrobatik dengan bola basket. Erick ini sepertinya benar-benar menyukai permainan bola basket. Bahkan di balik seragam kotak-kotak biru-hitam, ada kaus basket.
Erick menoleh sebentar ke arah Milka dan berkata, “Kan, lu juga dapet.”
Milka sok mengambek. “Ih, sama Patricia doang yang dikasih Toblerone. Gue sama yang lainnya, kenapa cuma Silverqueen?”
“Bersyukur ada yang kasih di hari Valentine,” dalih Erick, lalu memantulkan bola basket ke dinding. Tampaknya Erick cukup berhati-hati agar tidak mengenai jendela. “Silverqueen juga coklat batangan juga.”
“Iya, iya, tahu, deh,” sindir Nila manyun. “Yang udah kesengsem sama Patricia.”
“Apaan sih, Nila,” ujar Erick yang menghentikan aksi akrobatik dengan bola basket. “Gue kasih Toblerone ke Patricia sebagai ungkapan terima kasih. Dia udah sering baik banget ke gue. Nggak lebih.”
“Pret, Rick!” semprot Yuli. “Wajah lu menunjukkan sebaliknya. Berdusta kamu ini, Rick.”
Erick hanya terkekeh-kekeh, lalu segera mengambil pakaian olahraga dari dalam tas dan menuju toilet yang berada di lantai satu.
Sementara Patricia, kulihat-lihat, menghabiskan Toblerone dengan wajah yang kelihatannya memiliki perasaan khusus untuk Erick. Mungkin Patricia benar-benar menyukai Erick.
***
Ah, ingin sekali aku menonton Ada Apa Dengan Cinta di bioskop. Sayangnya Mama melarang aku. Menurut beliau, bioskop bukanlah tempat yang layak didatangi oleh anak-anak seusiaku. Iya sih, Mama benar. Aku lupa kapan, tapi saat melintasi bioskop tahun lalu, bioskop yang aku datangi saat itu cukup suram. Ada segerombolan laki-laki yang asyik dengan rokok masing-masing. Aduh, aku tidak tahan dengan asap rokok. Belum lagi dengan pemandangan beberapa pasang kekasih yang saling rangkul di sudut-sudut bioskop. Ada yang sampai berciuman, loh.
Saat itu, Mbak Roh langsung menutup kedua mataku. Ia berbisik, “Anak kecil nggak boleh lihat yang begitu-gitu!”
Dengar-dengar, kata Nila, dkk, film itu akan dibuatkan versi drama televisi. Pasti aku tonton dramanya. Berharap drama televisinya sebagus film bioskopnya.
Soundtrack film itu bagus pula. Sampai sekarang, beberapa teman perempuan aku masih suka menyanyikan lagunya. Kalau tidak salah, liriknya itu seperti ini.
Wahai pujangga cinta
Biar membelai indah
Telaga di kalbuku
Jujurlah pada hatimu
Ada apa dengan cinta?
Perbedaan aku dan engkau
Biar menjadi bait
Dalam puisi cinta terindah
Kututup buku paket Sejarah. Aku sedang tidak berkonsentrasi dalam menghafal materi Sejarah yang sekiranya akan keluar di ulangan harian Sejarah nanti. Minggu lalu Bu Gultom memberitahukan bahwa nanti bahan ulangannya adalah dari bab tentang kerajaan-kerajaan Nusantara bercorak Hindu-Buddha.