Sedang jam istirahat. Tadi ada mata pelajaran Sejarah. Seperti biasa, dimulai dari pemeriksaan PR. Yang tidak mengerjakan PR Sejarah, bersiap-siap jemarinya dipukul dengan penghapus papan tulis. Awalnya, kukira Bu Gultom ini jahat sekali. Nyatanya, setelah aku perhatikan, Bu Gultom tidaklah semenakutkan yang aku kira sebelumnya. Jika kita rutin mengerjakan PR, lalu benar-benar menyimak selama jam Sejarah, justru tidak akan diapa-apakan oleh Bu Gultom. Secara tampang, beliau memang agak seram. Namun, Bu Gultom sungguh guru yang luar biasa.
Tadi aku diberikan coklat Silverqueen oleh Bu Gultom. Beliau memberikan aku sebatang coklat Silverqueen karena nilai 100 yang aku dapatkan di ulangan harian Sejarah yang diselenggarakan dua minggu yang lalu. Di kelas, hanya aku yang mendapatkan nilai 100. Sandi Malau saja mendapatkan nilai 85. Yang mendekati aku itu hanyalah Patricia. Dia dapat nilai 95.
Ulangan harian Sejarah yang sudah berlalu itu saja, aku rasa, cukup gampang. Kisi-kisi ulangannya keluar semua. Tentang kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha. Aku bisa menjawabnya. Terkadang aku bersyukur Tuhan mengaruniakan aku otak yang cukup encer dan mudah menghafal materi pelajaran sekolah. Walaupun demikian, aku ingin Tuhan memberikan otak yang lebih encer lagi, khususnya dalam mengerjakan soal-soal Matematika.
Di saat jam istirahat begini, terutama di menit-menit awal, ruangan kelas pasti agak kosong. Termasuk untuk sekarang ini. Hanya ada tiga murid saja. Aku, Isabela, dan Melati. Isabela tampak sedang mengobrol dengan Melati. Yang mereka bicarakan itu masih perkara pelajaran sekolah.
Sekonyong-konyong Isabela mendekati aku dan berkata, “Selamat, yah, Noel,”
Aku menerima ajakannya untuk berjabat tangan. Cara bicara Isabela agak unik, menurutku. Terbata-bata begitu, yang sama seperti caranya dia berjalan. Seharusnya Isabela ini kakak kelas aku. Ia seharusnya sudah menjadi murid SMA. Sayangnya, di masa lalu, ada peristiwa kurang menyenangkan yang ia alami. Dulu, saat ia kelas 4 SD, ketika hendak menyeberangi jalan untuk menghampiri mobil antar jemput, sebuah motor menabrak Isabela cukup kencang. Motor lainnya ikut melindas sebagian tubuh Isabela. Buntutnya, beginilah kondisi Isabela. Selain harus dua kali tinggal kelas, cara Isabela berjalan dan berbicara agak terbata-bata. Bukan agak sebetulnya sih, tapi cukup terbata-bata.
“Terima kasih, Isabela,” kataku tersenyum.
Lalu, tebersit ide untuk membagikan sebatang coklat Silverqueen itu kepada Isabela dan Melati. Aku membuka coklat batangan itu dari sampul pembungkusnya. Aku memotek coklat batangan itu menjadi tiga bagian. Satu untuk aku. Satu untuk Isabela. Satunya lagi untuk Melati. Mereka menerimanya dengan senang sekali.
Omong-omong tentang Melati, aku spontan menggelengkan kepala. Aku tidak naksir Melati juga. Hanya saja aku cukup kasihan dengan teman perempuan aku yang berambut pendek ini. Bingung saja, kenapa Melati sering dijauhi oleh teman-teman aku. Memang sih badannya agak bau begitu. Masa sih harus dijauhi hanya karena faktor bau badan?
Tentang bau badan Melati, ingin sekali aku bertanya, tapi enggan. Aku takut dia tersinggung. Belum lagi, aku ingin bertanya mengapa wajahnya sering lebam-lebam. Apa keluarga Tulang-nya itu seperti ayah kandungnya yang pemabuk itu?