Hari ini aku sedang libur. Libur apa? Libur karena rapat para guru. Kemarin sudah diberitahukan juga. Kemarin yang aku maksud itu hari sabtu. Sekarang, kan, hari senin.
Sialnya lagi, adikku, Christy, ikut libur juga. Itu termasuk dengan Kak Irma. Padahal aku ingin sekali merasakan liburan sendiri di saat adik dan kakak nomor dua aku itu sedang sibuk belajar di sekolah masing-masing. Selama ini, mereka berdua sering libur di saat aku sedang sibuk belajar di Marius. Sekali-kali, situasinya dibalik, dong.
Akan tetapi, liburannya hanya sehari. Yang kuingat, sekolah diliburkan karena memang ada rapat. Rapat para guru untuk mempersiapkan Ujian Akhir Nasional yang akan diikuti oleh Nabit dan para kakak kelas 3. Begitulah yang aku dengar dari Pak Nelson. Mungkin pula kakak dan adikku libur karena alasan yang sama. Konon, sistem UAN juga diterapkan di tingkat SD, selain di tingkat SMP dan SMA.
Pagi-pagi, Kak Irma sudah berada di depan komputer. Ia sedang asyik memainkan game kesukaannya, The Sims. Aku sempat mengintip sedikit dan diberitahukan beberapa cheat, terutama agar memiliki uang yang tidak habis-habis.
“Tapi, kamu mainnya setelah Kakak selesai main,” ujar Kak Irma sembari bermain The Sims, sembari makan mi instan, yang tadi minta dibuatkan ke Mbak Roh.
Aku menurut saja. Yang setelah melihat kakak aku itu bermain, aku membaca majalah Donal Bebek. Di rumah, memang keluarga aku berlangganan Harian Kompas, Majalah Donal Bebek, Majalah Bobo, dan Tabloid Fantasi. Sekarang juga hari senin. Majalah Donal Bebek yang diantarkan ke rumah oleh seorang loper koran yang menurut aku lucu.
Sementara adikku, Christy, masih tidur. Padahal sudah sekitar jam delapan pagi. Biarkan dia tidur. Dia juga butuh tidur sedikit lebih lama. Di rumah ini, hanya dia yang bersekolah siang. Yang lainnya, pengecualian untuk Kak Sherly, bersekolah pagi. Berat pasti untuk anak seusia Christy harus sekolah siang. Dulu aku senpat masuk sekolah di atas jam 12 siang. Sumpah, itu benar-benar tidak menyenangkan sama sekali. Yang seharusnya jam 2 siang itu digunakan untuk bermain atau tidur siang. Eh, aku harus gunakan untuk belajar. Kalau tidak salah, itu terjadi saat aku kelas 5 SD. Selama tiga bulan, aku harus masuk siang. Alasannya, karena ruang kelas digunakan untuk murid-murid senior dari SMP dan SMA yang akan mempersiapkan Ebtanas. Aku bingung mengapa begitu. Terkadang sekolah Marius suka aneh dan berbeda sendiri dari kebanyakan sekolah.
Aku selesai membaca majalah Donal Bebek. Segera aku iseng saja ke ruangan di dekat dapur. Di sana, Mbak Roh sedang menonton televisi. Acara yang ditontonnya adalah acara olahraga. Ternyata sebentar lagi mau Piala Dunia. Kata si presenter, Piala Dunia diselenggarakan di benua Asia. Tepatnya lagi, di Jepang dan Korea Selatan. Untuk kali pertama diselenggarakan di dua negara.
“Nanti bakal tayangnya siang hari, Noel,” kata Mbak Roh, yang sembari menonton, ia sibuk memotong-motong sayuran.
“Kok gitu, Mbak?” tanya aku mengernyitkan dahi.
“Harusnya Noel yang masih sekolah, yang lebih tahu dari Mbak,” balas Mbak Roh terkekeh-kekeh. “Lagian, Mbak kan wis ndak sekolah. Wis lali pelajaran sekolah dulu. Hahaha. Tapi, Noel, kenapa Mbak ngomong gitu, karena perbedaan waktunya. Perbedaaan waktu antara Indonesia dan Jepang itu dua jam. Jepang waktunya itu dua jam lebih awal daripada Indonesia. Dan, pasti main bolanya itu siang-siang, yang begitu tayang di Indonesia, siang juga."
Aku mengangguk-angguk. “Oh, karena itu, tayangan Liga Italia sering tayang malam-malam di Indonesia?”
Mbak Roh mengangguk untuk mengiyakan. “Soalnya di Italia sendiri, main bolanya siang. Makanya tayang di Indonesia itu malam.”