Kenapa tidak libur saja?
Begitulah pikiran aku saat harus ke sekolah di hari sabtu. Sementara Papa sudah libur di hari sabtu ini. Wah, enak sekali menjadi Pala yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Beliau bekerja hanya lima hari. Di hari sabtu dan minggu, beliau mendapatkan kesempatan untuk libur.
Ha-ha-ha. Aku ini kenapa? Kenapa harus iri dengan ayah kandung sendiri?
Biarlah Papa libur di hari sabtu. Jika dipikirkan lebih lanjut, pekerjaan beliau lebih merepotkan dari aku. Dulu aku pernah mengunjungi kantor Papa beberapa kali. Itu terjadi saat aku masih SD. Lupa, itu usia berapa juga. Yang jelas, yang aku amati beliau sungguh pekerja keras. Beban pekerjaan beliau belum sebanding dengan aku yang sekarang ini sudah kelas 1 SMP.
Jam pertama adalah Bahasa Inggris. Yang masih lebih sering membahas tentang tenses. Ada tiga utama tenses yang aku tahu. Past tense, masa lalu. Present tense, masa sekarang. Terakhir future tense, masa depan. Pembahasan Bu Maria tidak jauh berbeda dengan pembahasan Bu Nur saat SD dulu. Diulang-ulang terus hingga aku bosan sendiri. Makin lama juga aku lihat bahwa di Marius ini, pembelajaran Bahasa Inggris belum sampai kepada praktik. Aku ingin bisa berbicara dalam bahasa Inggris seperti layaknya anak-anak Inggris. Yang setiap menonton film-film berbahasa Inggris, aku tidak perlu lagi melihat tulisan terjemahan Indonesia-nya.
Ah, tahun lalu saja, eh atau dua tahun lalu? Ah, yang jelas, saat aku masih SD, aku pernah nenonton film berbahasa Inggris. Judulnya “Little Vampire”. Itu tentang seorang bocah laki-laki yang sedikit memiliki teman di sekolahnya. Yang akhirnya, saking kesepiannya, bocah bernama Tony malah menjalin persahabatan dengan seorang bocah drakula bernama Rudolf. Hingga akhirnya Tony malah menjadi penyelamat untuk keluarga Rudolf dan seluruh drakula. Aku suka sekali dengan film tersebut. Saking sukanya, kedua mataku sulit dilepaskan dari layar komputer. Sedikit-sedikit bola mataku bergerak memperhatikan setiap tokoh yang beradegan dengan cukup baik. Kadang memperhatikan gerak bibir mereka. Kadang pula memperhatikan teks terjemahannya. Yang melelahkan itu saat harus sedikit-sedikit memperhatikan teks terjemahannya. Seandainya aku bisa lancar berbahasa Inggris, yang tidak sekadar jago secara teori atau menuliskan kata-kata sederhana dalam bahasa Inggris. Aku ingin kedua telinga ini langsung menangkap setiap obrolan dalam bahasa Inggris.
Lalu aku mencontoh Kak Irma. Tahun lalu ia menonton Atlantis yang keluar di 2001 itu nyaris tidak melihat teks terjemahannya. Bahkan ia bisa mengucapkan ulang salah satu dialog dalam Shrek.
“They'll shave your liver. Squeeze the jelly from your eyes! Actually, it's quite good on toast,” kata Kak Irma menirukan perkataan Shrek, yang seorang ogre.
Sampai sekarang aku masih mengucapkan ogre sebagai ogre, yang sesuai pelafalan orang Indonesia pada umumnya. Padahal menurut Kak Irma, yang benar itu Oger, dengan huruf terakhirnya diucapkannya agak tertahan. Ujung lidah kita berada di langit-langit rongga mulut saat mengucapkan huruf ‘r'.