Seperti biasa, selalu saja Mareta yang disuruh untuk mencatatkan materi di papan tulis, lalu murid-murid lainnya mencatat apa yang Mareta tulis di dalam buku catatan masing-masing. Itu pun termasuk aku sendiri.
Dalam satuan internasional (SI), satuan dari energi adalah joule. Selain itu, untuk menyatakan energi dalam bentuk kalor (panas) digunakan kalori dan kWh untuk menyatakan energi listrik.
Tak heran mengapa Mareta sering dipilih untuk mencatat materi di papan tulis, selain jabatannya sebagai sekretaris kelas. Tulisan tangan Mareta memang indah, entah yang ditulis di papan tulis maupun di buku tulisnya. Iya, dulu aku pernah kedapatan memeriksa pekerjaan rumah Mareta. Itu saat mata pelajaran Sejarah. Tak jauh berbeda memang, antara tulisan tangannya di papan tulis dan yang tertera di lembar jawaban. Aku sering iri dengan teman-teman yang memiliki tulisan tangan indah. Selain Mareta, ada Yuli, Fani, Patricia, hingga Erick.
Meskipun Erick itu laki-laki dan lebih macho dari aku, aku heran kenapa Erick bisa memiliki tulisan tangan yang indah. Padahal rata-rata teman laki-laki aku, sejak SD hingga sekarang, jarang sekali yang memiliki tulisan tangan menawan. Teman laki-laki terakhir yang memiliki tulisan tangan indah adalah Sodo yang sudah tidak satu sekolah lagi dengan aku. Saat itu, aku selalu mengagumi keindahan tulisan tangan Sodo.
1. Energi potensial
Energi potensial adalah suatu energi yang tersimpan pada sebuah benda atau sesuatu karena posisi atau kedudukannya. Energi potensial terbagi lagi menjadi beberapa macam, yaitu energi potensial gravitasi, energi potensial pegas (elastis), dan energi potensial listrik, dan masih banyak lagi.
Ambil contoh, seperti ini. Kita ingin menjatuhkan sebuah benda dengan ketinggian tertentu. Semakin tinggi kedudukan benda tersebut dari tanah, maka semakin besar pula energi potensialnya.
Rumus Energi Potensial: Ep = m × g × h
Keterangan:
m = Massa benda (kg)
g = Gravitasi (N/kg)
h = Ketinggian letak benda dari bumi (m)
“Sampai sini, ada pertanyaan?” tanya Bu Bertha di sela-sela Mareta menuliskan materi.
Sekonyong-konyong Mareta berhenti mencatatkan materi di papan tulis. Ia komat-kamit berbicara kepada Bu Bertha, “Saya boleh duduk?”
Bu Bertha mengangguk. Ganti beliau bangkit dari bangku. Sebelumnya beliau mengambil sebatang kapur dan menuliskan sebuahsebuah contoh kasus.