2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #45

Belajar Menulis Indah

Aku ingat, saat kelas 2 SD dulu, setiap jam pelajaran Bahasa Indonesia, wali kelas, Bu Rohani, mewajibkan aku dan teman-teman utnuk membeli buku tulis khusus. Buku tulis ini tidak seperti buku tulis yang aku biasa gunakan. Garis-garis di dalamnya ada lebih banyak dari yang biasa aku gunakan. Tertulis di bagian sampulnya, ‘Buku Menulis Huruf Sambung'. 

Jangankan huruf sambung, menulis biasa saja aku tak sanggup. Tetap saja tulisan tangan aku jelek sekali. Sukar dibaca dalam sekali pandang. Harus dilihat beberapa kali dulu, sembari dipicing-picingkan, barulah bisa membaca tulisan tanganku dengan sempurna. Aku juga bingung kenapa begitu. 

Ah, bahkan tulisan tangan Papa masih lebih bagus daripada tulisan tangan aku. Tulisan tangan Mama, punyanya Kak Sherly, punyanya Kak Irma, dan punyanya Christy, mereka semua indah-indah. Hanya aku, yang memiliki tulisan tangan seperti cakar ayam. Bahkan cakar ayam saja masih lebih indah daripada tulisan tangan punya aku. 

Sepulang ibadah minggu, juga sebelum mengikuti les privat bersama Pak Simon, aku iseng mencorat-coreti salah satu halaman di buku harian aku. Aku ingin belajar menulis indah. Maksud aku dengan menulis indah itu adalah menulis tulisan tangan dengan indah; bukannya menulis nama Indah. Aku ingin tulisan tangan aku bisa dibaca tanpa harus dipicing-picingkan kedua mata yang membacanya. 

Lalu, aku mulai menulis yang aku ingin tuliskan. Mungkin aku tuliskan saja sesuatu yang aku baca dari Warta Jemaat ini. 

***

Bisakah kita membayangkan seorang pejuang yang merebut atau menaklukan kota? 

Ia pasti gagah perkasa. Memiliki ketangguhan dan kesabaran. Memiliki teknik berperang yang bagus. Juga, masih banyak ciri lainnya. 

Namun, ada satu ciri yang terlewatkan. Itu adalah orang yang sabar lebih baik dari seorang pahlawan. Sebab, ada yang berkata bahwa mengendalikan diri lebih baik dari menaklukan kota. Ada banyak sekali contoh orang-orang yang berhasil menaklukan dunia, tapi ia gagal menaklukan dirinya sendiri. 

⁠⁠Maka dari itu, kita harus menyadari bahwa pengendalian diri adalah nilai moral yang tinggi. Banyak orang hidup dengan emosi dan semangat yang semu. Mereka juga dikuasai oleh kemarahan. Hidup di dalam spontanitas lebih dihargai daripada ketenangan. Banyak kehidupan publik figur yang kandas gara-gara ini. 

Berhati-hatilah dengan kehidupan yang impulsif. Kita mudah bereaksi atas suatu kejadian. Jauh lebih cepat kita bertindak daripada duduk diam dan mengontrol. Apalagi di zaman ini kita seolah dituntut untuk terus menerus memperbaharui isi media sosial kita. Kecepatan menjadi kata kunci. Orang lebih menghargai kecepatan. Bahkan, orang kurang memberikan penghargaan pada kesabaran dan pengendalian diri. 

 

Lihat selengkapnya