2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #46

Yang Kusuka dari Bahasa Indonesia

Jujur aku harus akui bahwa tulisan tangan aku tidak bagus. Cukup cakar ayam. Bahkan, di dalam keluarga kandung, hanya aku yang memiliki tulisan tangan seperti cakar ayam. Walaupun demikian, aku tidak pernah berpikir aku bukan anak kandung. Bukankah selalu ada pengecualian? 

Eh, apa itu istilahnya? Seingatku, anomali. Saat aku mengecek artinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebal sekali tersebut, anomali itu memiliki arti sebagai berikut:

"Penyimpangan atau kelainan, dipandang dari sudut konvensi gramatikal atau semantis suatu bahasa."

Itulah arti anomali dalam kamus. Yah, anggap saja aku merupakan sebuah anomali dalam keluarga kandung aku sendiri. Aku percaya memang anak kandung dari Papa dan Mama. Akte kelahiran sudah pernah aku lihat. Memang tertera nama mereka berdua. Aku tidak perlu meragukan fakta bahwa aku memang anak kandung Papa dan Mama. 

Yah, sudahlah. Sepertinya aku harus ikhlas dengan fakta bahwa tulisan tangan aku seperti cakar ayam. Mungkin benar yang pernah dikatakan Sandi Malau. Orang yang memiliki tulisan tangan cakar ayam, pertanda orang itu jenius. Bahkan pelukis fenomenal itu pun--yang aku maksud adalah Leonardo Da Vinci--memiliki tulisan tangan yang sukar terbaca. Aku pernah baca di internet, tulisan tangan kidal Leonardo Da Vinci adalah yang terbaik di dunia. 

Sekonyong-konyong aku teringat lagi dengan obrolan dengan Ramot dan Sandi Malau. Yang hari selasa saat itu. Sebelum bel sekolah berbunyi. Baru tiba di kelas, aku langsung didekati beberapa orang teman sekelas. 

***

Ramot mengeluh, “Untung pintar lu, Noel. Kalau nggak, nggak ada yang mau temenan sama lu, deh. Udah tulisan tangannya harus pakai mata batin dulu, baru bisa kebaca, eh, orangnya nggak jago bersosialisasi di sekolah.”

Aku hanya tertawa terkekeh-kekeh. Apa hubungannya antara memiliki teman dengan kualitas tulisan tangan, yah? 

Sandi Malau ikut menimpali, “Gue juga heran, Mot. Kok guru-guru bisa betah mengoreksi ulangan atau PR si Noel, yah? Eh, yang gue dengar, orang-orang dengan tulisan tangan kayak Noel ini katanya jenius. Contohnya kayak Albert Einstein.”

Sementara itu, Leo masih terus menyalin jawaban LKs Sejarah. Aku heran, apa dia tak terlalu terganggu dengan kualitas tulisan tangan aku. Aku lupa, deh. Tulisan tangan Leo bahkan juga sama-sama cakar ayam. Sesama tulisan tangan cakar ayam dilarang saling menjelek-jelekkan. 

***

Masih saja aku tertawa terbahak-bahak. Bingung aku dengan ulah beberapa teman di sekolah. Sudah tahu tulisan tangan aku seburuk itu, kenapa masih minta contekan PR ke aku? 

Selain tulisan tangan aku buruk, sebetulnya aku pun tak terlalu pintar. Aku hanya jago menghafal. Untuk mata pelajaran yang mengandalkan kemampuan hitung-menghitung, aku masih payah. Sudah mengikuti les privat Matematika, tetap saja kesulitan dalam mengikuti pelajaran Matematika di sekolah. Mendadak aku teringat dengan kata-kata Pak Gomal sebelum pindah tempat tinggal ke Sumatera Utara. 

Lihat selengkapnya