Sudah bulan Mei. Bulan depan sudah pembagian rapor lagi. Hampir setahun sudah aku berseragam putih-biru juga. Sebelumnya aku adalah murid berseragam putih-merah, yang memasang dasinya lebih mudah. Tinggal kalungkan saja di leher, lalu mengenakan topi di leher. Sudah begitu saja. Kalau di SMP, berbeda. Cara menggunakan dasi aku sebagai murid SMP itu sudah mirip dengan cara Papa mengenakan dasi setiap pergi ke kantor atau pesta pernikahan. Ribet. Sampai sekarang pun, aku belum menguasai cara menggunakan dasi. Masih sering dibantu pembantu rumah tangga. Atau, jika di sekolah, aku sering meminta bantuan teman-teman sekolah. Yang paling sering aku minta tolong adalah Sandi Malau.
Ha-ha-ha. Terima kasih banyak ke teman aku yang berwajah mirip Sadam di “Petualangan Sherina” tersebut. Sandi pun sudah banyak membantu aku. Tidak hanya di perkara pemasangan dasi, tapi ke perkara-perkara lainnya. Dia pun tak sombong dalam menjelaskan istilah-istilah yang sebelumnya tidak aku kenal. Walaupun demikan, tetap saja dia pelit. Bukan pelit dalam hal uang. Pelit yang aku maksud adalah dalam hal memberikan jawaban PR atau ulangan. Namun, tidak apa-apa. Aku bisa paham. Siapa juga yang mau pekerjaannya main disalin begitu saja. Aku juga tidak akan mau.
Selain tentang dasi, banyak hal baru yang aku alami selama lebih dari setengah tahun menjadi murid SMP. Menjadi murid SMP itu sama sekali tidak menyenangkan. Aku lebih memilih untuk menjadi murid SD. Kalau bisa, selamanya.
Sembari bermain permainan komputer, The Sims, aku lalu tertawa terbahak-bahak. Sepertinya tidak mungkin juga, menjadi murid SD selamanya. Lagi pula, ada beberapa hal yang ingin aku rasakan ketika usiaku tujuh belas nanti. Hal-hal itu, kurasa, tidak akan bisa dirasakan ketika aku masih SD. Ambil contoh, aku ingin bisa bebas menonton film. Ada beberapa film yang saat itu belum boleh ditonton oleh aku. Jika masih SD, aku pasti dibentak Mama setiap film yang aku tonton, ada adegan-adegan ala orang dewasa. Itu seperti adegan sepasang kekasih sedang berciuman. Mama pasti akan langsung menutup mataku. Atau, tayangan film itu akan langsung dipercepat oleh beliau. Tidak asyik, ah.
Sembari menunggu proses loading--karena tokoh Sims aku sedang aku ajak berjalan-jalan di Downtown, sekonyong-konyong aku teringat dengan kejadian di tahun lalu. Awal dari aku mengenal Pak Hadi, guru Biologi yang nyentrik sekali tersebut.
***
Sekonyong-konyong seorang guru lewat. Perawakannya sudah tua. Rambutnya sudah banyak yang berguguran. Yang hanya menyisakan rambut di sisi-sisi rambutnya. Untuk bagian tengah, plontos. Guru ini sedikit pendek dan gemuk. Bahkan guru ini lebih pendek dari Alfa. Kadang aku bingung cepat sekali tinggi Alfa bertambah. Namun, saat aku tahu, Alfa sering bermain bola basket bersama Yosua di salah satu lapangan komplek, aku mulai paham mengapa tinggi badannya cepat meroket. Mungkin aku harus bermain basket agar tinggiku bertambah.
“Kenapa dia?” tanya si guru berkepala plontos di tengah.
Alfa yang menjawab, “Kesandung anak tangga, Pak.”
“Wah, hati-hati kamu,” ucap si guru plontos terkekeh. “Habis mikirin perempuan, yah, kamu?”
Alfa tertawa. “Tuh, Noel, dijawab pertanyaan si Bapak.”
Aku hanya cekikikan dan tak kusangkal berwajah merah karena selorohan si guru plontos.
“Kalian kelas berapa?" tanya si guru plontos tersebut.
“Kelas 1-1," jawab Alfa. “Buruan, Noel, jalannya.”
Aku mengikuti langkah mereka dari arah belakang.
“Nama Bapak siapa?" tanya Alfa yang sepertinya tidak terlalu takut atau segan dengan guru plontos tersebut. Harus aku akui, Alfa ini tidak sama seperti aku. Pembawaan Alfa cukup supel. Dia pintar berbicara juga. Aku ingat, saat kelas 4 SD dulu, Alfa sempat menjadi penengah di tengah perkelahian antara Alvin dan Rio, yang dibantu oleh Yoga dan kawan-kawan.
“Nama saya Hadi,” jawab si guru plontos tersenyum. Oh, Pak Hadi ini membawa tas cukup besar di salah satu lengannya. “Kebetulan jam pertama saya mengajar di kelas 1-1. Saya guru Biologi.”