Guru-guru rapat lagi. Alhasil, hari sabtu ini aku libur. Aku bingung, sejak masih SD, kenapa guru-guru Marius sering mengadakan rapat? Mereka membicarakan apa di rapat para guru? Apa benar yang dikatakan Bu Bertha bahwa yang dibahas itu tingkah laku para murid?
Kulihat, Papa meletakkan gantungan baju di pengait yang terpaku di dinding. Beliau sudah rapi sekali. Saat aku tanya, beliau bilang mau ke acara pernikahan salah seorang kerabat. Aku diminta ikut. Namun, aku tolak. Mama membelaku.
“Ah, biar dia kenal saudara-saudaranya, Ma,” sahut Papa sembari mengenakan jas berwarna kecoklatan. “Dia juga sudah SMP. Harus tahu pernikahan Batak seperti apa.”
“Yah, tapi jangan dipaksalah, Pa,” tangkis Mama yang lalu minta Mbak Inah untuk mengambil kebaya ke binatu langganan.
Mbak Inah lalu menyerahkan pekerjaan memasak ke Mbak Roh yang baru saja selesai menyetrika. Mbak Inah segera keluar rumah dan menuju binatu favorit yang tak jauh dari rumah. Tak sampai lima menit juga, kok. Paling hanya beberapa langkah dari rumah. Binatu berada di sebuah warung langganan juga. Milik Pak Syafi'i.
Itulah aktivitas pagi hari di rumah aku sekitar satu jam yang lalu. Sekarang Papa dan Mama sudah pergi. Di rumah, hanya ada aku, Christy, dan dua orang pembantu. Satu orang pembantu, Mbak Nenti, sudah pergi ke wartel, salah satu usaha keluarga yang berada di Ciledug. Christy baru saja bangun. Bangun-bangun, dia sudah mengerjakan PR. PR Matematika yang ia kerjakan. Aku sesekali membantunya mengerjakan PR Matematika kelas 3 SD, yang tak sulit untuk aku yang sudah kelas 1 SMP. Adikku ini masuk siang. Baru berangkat di sekitar jam 10.30 pagi. Katanya, bel sekolah berbunyi di jam 12.30. Sampai rumah, selalu di atas jam 6 sore. Setelah azan Magrib terdengar, pasti mobil Volkswagen Kapsul berwarna biru tua akan mengantarkan adikku pulang.
Setelah mengerjakan PR Matematika--yang tadi aku bantu, Christy minta dibuatkan mi instan. Sembari menunggu mi instan selesai dibuatkan, Christy menonton televisi. Sedang tayang film India begitu. Aku kurang begitu tahu apa judulnya. Namun, alur ceritanya sepertinya menarik. Tentang seorang pemuda yang seperti Tarzan, yang jatuh cinta dengan seorang perempuan dari kasta tertinggi.
Sekonyong-konyong aku teringat dengan pelajaran Sejarah tempo lalu. Bu Gultom pernah menjelaskan tentang perkastaan di India. Menurut Bu Gultom, sampai sekarang masyarakat di India masih menerapkan sistem kasta, meskipun tidak dipraktikkan secara frontal seperti 20-30 tahun yang lalu. Pada masyarakat sendiri, ada empat jenis kasta. Yang paling tinggi, kasta Ksatria. Lalu, di bawahnya, kasta Brahmana. Di bawahnya, kasta Waisya. Paling bawah, itu adalah kasta Sudra.
Jika mengacu kepada apa yang aku pelajari di pelajaran Sejarah saat itu, si Tarzan ini berasal dari kasta Sudra. Ia jatuh cinta dengan perempuan dari kasta Ksatria. Orangtua si perempuan tak sudi anak perempuannya berpacaran dengan si Tarzan. Namun, si perempuan ngotot mempertahankan hubungan dengan si Tarzan. Kurang lebih begitulah cerita yang aku tangkap dari film India ini.
Aku baru sadar ternyata Mbak Roh sedang menuliskan sesuatu di dalam buku tulis. Aku beringsut lebih dekat untuk mengetahui apa yang Mbak Roh tuliskan. Mbak Roh ternyata sadar.
“Eh, Noel,” ucap Mbak Roh berhenti menulis.
“Lagi nulis apa, Mbak?” tanyaku sembari membaca sekilas apa yang ia tulis. “Surat cinta buat pacar Mbak di kampung?”
Mbak Roh menggeleng. “Baca aja.”
Aku langsung membaca apa yang Mbak Roh tuliskan. Beginilah isinya.