2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #51

Surat untuk Sahabat

Dear Becky, 

Halo, Becky. Kamu gimana kabarnya? Apa baik-baik saja? Aku di sini baik-baik saja, sih. 

Sudah lama, yah, kita tidak ketemuan. Terakhir mungkin waktu kita masih kelas 4 SD. Eh, apa kamu masih ingat sama aku? 

Mungkin nggak, kali, yah. Aku ini siapa juga, sih. Cuma seorang anak laki-laki yang suka duduk di pojok sambil melamun nggak jelas. Mana mungkin kamu ingat sama aku. Kamu pasti lebih ingat sama anak laki-laki yang lebih sering ngomong dari aku. Pasti begitu. 

Becanda, becanda. 

Eh, kamu di sana sudah kelas berapa? Kelas 1, kan? Atau, jangan-jangan kamu sudah kelas 2 SD? Aku nggak terlalu ingat. Lagian, kita memang sudah lama nggak saling ketemu. Ada sekitar tiga tahunan. 

Kalau aku di sini, sudah kelas 1 SD. Semoga bisa naik kelas. Doakan aku agar bisa naik kelas. Aku juga di sini akan berdoa agar kamu bisa naik kelas. Lalu, aku dan kamu saling ketemu lagi. Sejujurnya aku kangen banget sama kamu. Apa kamu juga kangen sama aku? 

Becky, Becky, kamu masih tinggal di Bintaro? Pastilah. Kalau nggak, gimana surat ini bisa sampai ke kamu. Pasti kamu juga akan menebak aku tahu dari mana alamat rumah kamu. Aku bisa tahu alamat rumah kamu dari Kak Revi. 

Masih ingat Kak Revi? Dia kan guru sekolah minggu kita. Dulu itu aku pernah nekat minta alamat rumah kamu ke dia. Sama Kak Revi, aku diberikan alamat rumah kamu. Sampai sekarang aku masih simpan alamat rumah kamu yang lama. Semoga saja surat ini sampai ke kamu, yah.

Aku sempat ragu sebetulnya apa harus kukirimkan surat ini ke kamu lewat pos. Biar gimana juga, cukup lama kita tidak saling lihat. Ada sekitar 3-4 tahun kita tidak ketemuan. Mungkin juga kamu sudah pindah. Apa saja bisa terjadi. 

Dulu itu, aku selalu ingat. Ah, mungkin kamu sudah lupa. Tapi aku selalu tak bisa melupakan setiap kata-kata kamu ke aku. Salah satunya itu waktu kamu ngomong begini. 

“Apa saja bisa terjadi. Jadi, ada baiknya jangan langsung menyerah. Kalau menemukan kesulitan, dicari tahu gimana cara menyelesaikannya. Selidiki ke akar-akarnya penyebabnya apa.”

Dulu kamu pernah ngomong begitu. Aku ingat banget, kok. Mungkin kamu sudah lupa sama yang kamu bilang. Tapi aku nggak pernah lupa.

***

Aku tersentak. Mbak Roh mendekati aku. Ia membawakan aku semangkuk mi instan rasa bakso yang tadi aku pesan beberapa menit yang lalu. Semangkuk mi instan dengan campur telur ayam dan potongan-potongan cabai merah. Wanginya! 

“Noel lagi apa?” tanya Mbak Roh yang matanya melirik ke buku tugas Bahasa Indonesia milikku. “Bikin surat cinta, yah?”

Aku balas nyengir dan berkata, “Bukan, kok. Guru aku nyuruh bikin surat buat sahabat. Yah, semacam surat pena begitu.”

Lihat selengkapnya