Untuk kali ini aku tidak masuk sekolah dulu. Badanku meriang. Yang mulai terjadi sejak kemarin kamis. Mungkin ada kaitannya juga ke cuaca. Sebab, kemarin kamis, menjelang jam pulang sekolah, turun hujan cukup deras. Aku pun kehujanan. Tidak parah-parah amat kehujanannya. Hanya saja, saat aku berjalan dari gerbang sekolah menuju salah seorang tukang becak yang sedang mangkal, tetesan-tetesan air hujan menerpa tubuh dan rambut aku. Sesampai di rumah, seharusnya aku mendengarkan omongan Mama yang tumben tidak pergi. Aku malah hanya berganti pakaian, lalu tidur siang. Begitu bangun, tiba-tiba badanku meriang. Demam yang tak kunjung turun. Hingga dahiku harus dikompres dengan handuk kecil yang sudah dibasahi air es.
Begitulah ceritanya, sehingga aku harus berada di tempat ini. Sudah lama juga aku tidak berada di Rumah Sakit Honoris. Banyak perubahan yang aku dapati setelah hampir tiga tahun tidak menginjakkan kaki ke Honoris. Dulu, aku ingat, semasa masih SD, cukup sering aku dibawa ke Honoris. Mencret sedikit, aku langsung dibawa ke Poli Anak. Dokternya selalu sama: Dokter Laurent.
Iya, Dokter Laurent. Sekarang pun aku mengunjungi Poli Anak bagian Dokter Laurent. Masih menunggu antrean. Tadi aku mendapatkan giliran nomor dua. Sehabis anak perempuan tadi, yah, giliran aku.
Aku sedang ditinggal sebentar oleh Mama. Mama izin ke kantin rumah sakit yang tak jauh dari Poli Anak. Ada di bagian Basement 1. Beliau ingin membeli air mineral dan tabloid. Sebetulnya aku agak keberatan ditinggal begini. Akan tetapi, yah, sudahlah. Bukankah aku sudah kelas 1 SMP?
Lalu aku memandangi ke sekitar aku. Selain ruangan ini, Poli Anak memiliki ruangan satu lagi. Yang satu lagi berada di seberang ruangannya Dokter Laurent. Tak jauh dari sana, ada arena bermain untuk anak-anak. Ada perosotan mini, dua buah ayunan, jungkat-jungkit, dan beberapa kursi kecil khas Taman Kanak-Kanak. Di area tersebut, sudah banyak dikunjungi anak-anak. Daripada bosan, kupikir, lebih baik aku bergegas ke sana. Segera aku berdiri dari bangku. Majalah Bobo yang tadi aku baca, kuletakkan di atas meja. Toh, itu bukan punya aku. Punya Honoris.
Seorang ibu mendekati aku dan berkata, “Ke Dokter Wijaya juga, Dik?”
Aku menggeleng. “Aku nanti periksa di Dokter Laurent. Antrean Nomor 2."
“Kelas berapa?” tanya si ibu yang mengenakan jilbab berwarna putih. Ia tersenyum. Lalu ada seorang anak yang bertubuh lebih kecil dari aku, berlari ke arah dirinya.
Sekonyong-konyong aku menelan air liur. Rasa-rasanya pertanyaan si ibu agak aneh. Spontan aku melihat ke arah pintu ruangan Dokter Laurent. Kedua mataku tertuju ke tulisan ‘Poli Anak'. Iya juga, aku baru sadar apa yang aneh.
“Kalau anak Tante,” ucap si ibu masih tersenyum. “dia nanti mau naik kelas 2 SD. Tapi, sampai sekarang saja, bacanya belum lancar.”
Aku mengangguk dan perlahan-lahan menjawab pertanyaan si ibu berjilbab, “Sebetulnya, Tante, aku udah SMP. Kelas 1. Nggak apa-apa, kan, kalau periksanya masih di Poli Anak? Mama yang daftarin juga. Jadi, bukan mau aku, Tante.”
Si ibu berjilbab terkekeh-kekeh. “Yah, nggak apa-apa. Hitungannya juga, masih dianggap anak-anak.”
Entah mengapa aku merasa tersinggung. Rasanya aku tak terima dianggap anak-anak. Bukankah jika kita duduk di bangku kelas 1 SMP, itu artinya kita sudah dewasa, yang minimal dianggap sebagai anak baru gede--alias ABG?
Sekonyong-konyong anak perempuan berambut panjang itu keluar. Lagi-lagi anak itu masih mengenakan masker. Padahal aku ingin melihat wajahnya yang utuh. Dari matanya yang sipit saja, pun kulitnya yang putih nan terawat, aku yakin wajah anak perempuan ini cukup cantik.
“Noel Irawan Nasution!” seru perawat yang berambut kuncir kuda.
Ternyata anak perempuan itu masih satu kerabat dengan Dokter Laurent. Tadi aku sempat mendengar anak perempuan berwajah Oriental itu memanggil Dokter Laurent dengan sebutan Om. Mamanya dia memanggil Dokter Laurent dengan sebutan “Dek”.
Mama tiba-tiba datang dari arah kantin. Beliau mempercepat langkahnya dan segera aku mengikutinya ke dalam ruangan praktek Dokter Laurent. Dokter Laurent tersenyum ke arah aku. Aku duduk di sebelah Mama. Mama langsung menjelaskan gejala-gejala yang aku alami sejak kemarin kamis. Dokter Laurent segera meminta aku menuju ke atas tempat tidur. Aku pun menurut.
“Sudah sekitar tiga tahun, Dokter Laurent nggak ketemu Noel lagi,” ujar Dokter Laurent yang sudah bersiap menyentuhkan ujung stetoskop ke atas dadaku. “Noel sekarang sudah kelas berapa?"