2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #56

Monyet itu Binatang yang Tidak Setia

Tak perlu menunggu hujan 

hanya untuk melihat pelangi

Ada pendar pelangi

di kelopak matanya

Meski begitu, 

kuakui pula, 

di setiap tetes hujan, 

tersirat wajah manismu

Kubaca lagi puisi ini. Sengaja aku selipkan di buku harian. Aku terkekeh saat membaca puisi ini. Sederhana sekali, dan sesungguhnya terinspirasi dari perempuan, yang entah perempuan yang mana

Aku, Noel Irawan Nasution, seorang murid kelas 1 di SMP Marius. Masih lajang. Alias belum memiliki kekasih. Yang awalnya itu aku bodoh amat perkara asmara. Di saat beberapa teman sekelas sudah mulai naksir-naksiran ke lawan jenis mereka. Aku tidak terlalu peduli tentang cinta. 

Eh, kemarin Yan menelepon. Astaga, apa dia tidak tahu temannya yang berkacamata ini tidak masuk sekolah hingga seminggu? Kenapa harus menelepon aku hanya untuk meminta izin tidak masuk sekolah karena harus menjalanu ritual agama? 

Sebentar, aku ingat, satu hari sebelum aku diliburkan oleh Mama, kondisi Yan memang tidak masuk sekolah. Hari kamis itu, Yan tidak masuk sekolah dengan alasan demam. Aku yang menyampaikan ke Mareta bahwa Yan tidak masuk karena sakit. 

Kalau dipikir lagi, Yan ini juga sering tidak masuk sekolah. Alasannya banyak sekali. Pernah tidak masuk karena jembatan di dekat rumah banjir. Pernah pula karena alasan ada urusan keluarga. Walau ia lebih sering tidak masuk sekolah karena alasan sakit. Ternyata Yan ini mirip seperti aku beberapa tahun yang lalu. Sering penyakitan. 

Sudah, sudah, sudah cukup. Kembali ke persoalan awal. Tentang cinta, maksud aku. Aku baru sadar bahwa perkara cinta lebih identik ke dunia murid SMP. Saat masih SD, sepertinya tabu untuk seorang anak SD. Mendadak aku teringat dengan kejadian saat aku kelas 2 SD. 

***

Saat itu, mungkin itu tahun 1996. Pembantu yang bekerja juga bukan Mbak Roh, Mbak Inah, maupun Mbak Nenti. Papa masih sering pergi dinas ke tempat-tempat eksotis di Indonesia. Aku masih kelas 2 SD. 

Ada dua orang kakak kelas yang bertetangga dengan aku. Mereka adalah Fani dan Riko. Wah, rasanya tidak menyenangkan, bertetangga dengan kakak kelas. Apa pun yang terjadi dengan kita, pasti si kakak kelas langsung tahu. Langsung menjadi bahan omongan saat aku kembali ke sekolah. Itu pernah terjadi saat Riko sekonyong-konyong datang ke kelasku dan iseng berkata, “Ninja Jiraiya, selamatkan aku!”

Astaga, malu sekali aku saat itu. Sontak aku mengalihkan pandangan dengan berpura-pura membaca Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan yang berwarna sampul merah putih. Sebagian teman-teman yang masih di kelas saat jam istirahat, menertawakan aku. Bahkan Yosua malah beringsut ke arah Riko. 

“Si Noel suka nonton Ninja Jiraiya, ya, Bang?” tanya Yosua nyengir. 

Riko menganggukkan kepala. “Iya, sampai suka main sama adiknya, adik gue, yang sama gue juga, main ninja-ninjaan. Dia maunya jadi Ninja Jiraiya mulu.”

Yosua spontan berseru, “Kenapa harus malu, Noel? Gue juga suka nonton Ninja Jiraiya.”

***

Aku tertawa terbahak-bahak. Kubaca lagi puisi itu. Sekonyong-konyong aku teringat dengan keponakannya Dokter Laurent lagi. Aku tidak pernah lupa namanya. Perempuan Tionghoa itu bernama Grace. 

Lihat selengkapnya