2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #57

Drama Rapor Hilang

Masuk sekolah juga. Hampir seminggu pula aku tidak pergi ke sekolah. Bukan tanpa alasan pula. Toh, aku sering di rumah untuk beristirahat. Di rumah, aku lebih sering menghabiskan waktu untuk tidur. 

Akan tetapi, baru saja aku masuk sekolah, sudah disambut dengan drama kurang menyenangkan. Penyebabnya itu semalam. Pada malam jumat, mungkin sekitar jam sembilan malam, Pak Monang tiba-tiba menelepon aku. Wali kelas sekaligus guru Agama aku itu bertanya perihal rapor. Yang apakah aku sudah mengembalikan rapor. Kubilang saja, aku sudah mengembalikan rapor. 

“Tapi, cuma rapor-mu yang tidak ada,” kata Pak Monang beralasan. “Besok, di jam istirahat, kamu ke ruang guru, yah. Kita omongkan lagi saja besok.”

Aku mengangguk. Segera aku taruh gagang telepon ke tempatnya. Ternyata Mama sudah berdiri di dekat aku. Pasti Mama menguping pembicaraan antara aku dan Pak Monang. Sepertinya tidak ada gunanya aku berbohong. Masalah ini berkaitan ke hidup dan matiku di Marius. Lalu aku menceritakan obrolan tadi ke Mama. Seperti dugaan aku, Mama panik. Beberapa menit kemudian, Papa pulang. Aku sempat dihakimi Papa dan Mama selama hampir satu jam. Pembelaanku adalah rapor itu memang sudah aku serahkan ke ketua kelas, yang dalam hal ini Seviane. 

Papa langsung bertanya kenapa harus diserahkan ke ketua kelas. Kejawab saja, yah, memang seperti itu. Begitu terima rapor, setelah masuk sekolah pasca liburan, yang beberapa hari setelahnya, rapor harus segera diserahkan ke ketua kelas. Nanti ketua kelas yang mengantarkan rapor-rapor itu ke meja wali kelas di ruang guru. Begitu mendengar jawaban aku, Papa dan Mama hanya menganggukkan kepala. 

Sekarang sudah hari jumat. Papa dan Mama yang mengantarkan aku ke sekolah. Biasanya aku berangkat sekolah naik becak atau ojek. Karena masalah ‘Rapor Hilang’ inilah, mereka berdua ikut ke sekolah. Papa segera ke ruang guru. Sementara, untuk Mama, astaga, aku agak kesal sebetulnya. 

Mama memaksa untuk naik ke lantai tiga dan menuju ruang kelas 1-1. Aku memang agak sulit membantah. Apalagi Mama terus saja mengikuti aku hingga ruang kelas 1-1. Yang begitu di dalam kelas, astaga, Mama segera menghampiri Seviane yang sedang mengobrol dengan murid-murid perempuan kelas 1-1. Mereka sedang memperbincangkan telenovela yang baru 

Kulihat ekspresi Seviane ketika ditodong beberapa pertanyaan oleh Mama. Ada rasa kasihan di dalam dadaku ini terhadap Seviane. Sumpah, bukan niat aku agar Seviane diomeli Maa sampai sebegitunya. Tadi aku sempat mencegah Mama agar tidak naik ke lantai tiga. 

“Sumpah, Tante,” ujar Seviane yang sudah menitikkan air mata. “bukan saya yang ngilanginnya. Dan, emang iya, Noel juga udah ngasih rapor ke saya. Sama saya, berapa hari kemudian, saya langsung bawa rapor-rapor yang dikasih ke saya, ke meja Pak Monang di ruang guru.”

Mama memelototi Seviane. “Kamu tidak berbohong, kan?”

Seviane mengangguk takut-takut dan mulai menangis agak lebih kencang. 

“Yah, sudah, jangan menangis,” ucap Mama yang tampang galaknya masih terlihat. “Tante hanya bertanya, Seviane. Bukannya menuduh kamu.”

Yah, bagaimana Seviane tidak menangis, Ma. Caranya Mama bertanya itu saja sudah membuat Seviane tertekan. Mungkin Seviane merasa sedang disudutkan. Yang sekonyong-konyong juga Seviane memandangiku seolah-olah sedang melimpahkan kekesalan kepadaku. Aku spontan saja mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku perhatikan murid-murid kelas 1-1 berkerumun. Mereka rupanya memperhatikan obrolan antara aku, Seviane, dan Mama.. 

Di saat seperti itu, Papa datang bersama dengan Pak Monang. Ah, Pak Monang sungguh guru yang bijaksana. Beliau langsung meminta kedua orangtua aku untuk pulang terlebih dahulu. Nanti biar dibiarkan dibicarakan dulu antara aku, Pak Monang, dan Seviane. 

Lihat selengkapnya