2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #58

Mempertanyakan Kabar tentang Alvin

Kali ini aku sedang liburan sekolah. Bukan karena bolos, karena agak sulit aku bolos dan memang bukan tipe murid yang suka bolos sekolah. Sampai-sampai Sandi Malau pernah seperti meledek aku sebagai seorang murid teladan. Aku tahu itu ledekan. Sandi Malau memang seperti itu. Ia sering meledek seseorang secara halus sekali. Terdengar seperti sebuah pujian. Padahal itu ledekan. Yang bukan hanya aku korbannya. Beberapa orang murid kelas 1 SMP Marius pernah mendapatkan perlakuan serupa. 

Ha-ha-ha. 

Aku menggelengkan kepala. Lalu kembali bermain permainan komputer. Kali ini tidak bermain The Sims dulu. Kubiarkan Dennis Hasselbaink dengan aksi playboy-nya. Semenjak aku menggunakan kode cheat ‘rosebud' itu, Dennis Hasselbaink perlahan berubah menjadi playboy. Sedahsyat itukah kekuatan uang? 

Untuk hari ini, aku bermain Age of Empires. Permainan simulasi perang dengan berlatar sejarah. Ada banyak peristiwa sejarah di dalam permainan ini. Berkat permainan ini, aku mengetahui tentang Joan of Arc, Salahudin, Yi Sun-shin, hingga King Friedrich I Barbarossa. Seru juga bagaimana mempersiapkan suatu masyarakat atau peradaban dengan baik. Pelan-pelan aku mulai mengerti perang bukanlah sekadar perang. Ada otak-otak jenius di balik terciptanya beberapa perang yang pernah terjadi di muka bumi ini. Ambil contoh adalah Salahudin. 

Nama lengkapnya adalah Salahuddin Yusuf bin Ayyub. Beliau merupakan tokoh cukup berperang dalam Perang Salib yang berlangsung cukup lama. Panglima perang yang luar biasa. Aku cukup mengagumi strategi-strategi militernya, yang sanggup menahan gempuran para tentara Salib yang katanya dikomandoi oleh pihak Vatikan. 

Oh iya, selain bukan karena bolos, hari ini--juga besok--tidak masuk sekolah, itu bukan karena sakit. Kondisi kesehatan aku perlahan-lahan membaik. Perutku tidak diare lagi. Sudah tidak demam. Aku tidak masuk sekolah karena ada praktik Ujian Akhir Sekolah di SMP Marius. 

Yah, sekarang namanya bukan Ebtanas lagi. Bye, bye, Ebtanas. Namanya kini adalah Ujian Akhir Nasional. Alias UAN. Begitulah Pak Silaban dulu menyebut ujian penentu kelulusan tersebut. Disingkat sebagai UAN. 

Sekonyong-konyong aku teringat dengan momen itu lagi. 

***

Suara gemuruh tepuk tangan membangunkan aku dari lamunan aku yang sedang asyik bernostalgia. Pak Silaban turun dari podium kecil tersebut. Sesuai dugaan aku tersebut, Pak Johannes, yang kata Santo merupakan Kepala Yayasan, naik ke atas podium kecil. Ternyata beliau juga akan berceramah ke setiap murid SMP Marius. Ceramahnya lebih berisi nasehat agar kami lebih serius belajar, tidak membuat masalah, menjaga nama baik sekolah Marius, serta… untuk murid-murid kelas 3, agar lebih serius dalam mempersiapkan UAN. Beliau menginginkan kelulusan yang seratus persen. Setiap murid kelas 3 SMP harus lulus dan diterima di SMA-SMA favorit. 

“Pokoknya kita tidak boleh jago kandang,” seru Pak Johannes Rajagukguk bersuara lantang. “Buktikan, sekolah ini juga tidak kalah. Buktikan sekolah ini juga bukan sekolah yang lebih sering menerima murid-murid yang tidak diterima di mana-mana. Saya harap kalian lebih serius belajar. Kurangi main-mainnya. Jangan membuat ulah di sekolah lagi. Kurang-kurangi nongkrong di warung dekat sekolah itu. Satpam sekolah sering bilang ke saya, ada beberapa murid ketahuan merokok di warung itu.”

Lalu, sekonyong-konyong beberapa murid saling pandang. 

***

Aduh, entah apa pula maksudnya Pak Silaban. Namun, apa boleh buat. Kudengar, memang terjadi perubahan sistem pendidikan. Pemerintahannya pun berbeda. Berganti dari Abdurrahman Wahid menjadi Megawati Soekarnoputri yang merupakan anak dari Proklamator Indonesia, Insinyur Soekarno. 

Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dilengserkan pada tanggal 23 Juli 2001. Berdasarkan Sidang Istimewa MPR RI, 23 Juli 2001 melalui Ketetapan MPR RI No. II/MPR/2001. Saat itu, aku sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Jatuh pada hari senin. Dan… 

***

Aku tersandung salah satu anak tangga. 

Alfa terkekeh-kekeh. “Tuh, kan, jatuh lu Noel. Santai, sih. Baru hari pertama sekolah. Telat sedikit, nggak diapain juga, kali.”

Aku ikut terkekeh. Alfa membantu aku untuk berdiri. Lututku agak terluka. Alfa langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah plester.

“Nih,” Alfa menyerahkan plester ke arah aku. “Gue nggak bawa obat merah, tapi mending plester dulu buat mengurangi pendarahannya.”

Thank's,” jawabku yang segera membalut lututku yang berdarah karena tersandung anak tangga. 

Alfa--yang sama seperti Yosua--merupakan temanku sejak aku bersekolah di SD Marius. Ia anak yang cerdas sebetulnya, meskipun agak nakal juga. Senakal-nakalnya Alfa, belum senakal Yoga, yang sampai harus dikeluarkan dari sekolah. Selain itu, Alfa ini dikenal sebagai Pepaya beberapa tahu yang lalu. Apa-apa menangis. Diganggu sedikit oleh anak nakal, sudah langsung menangis. Padahal seharusnya bisa dibalas oleh Alfa. Eh, julukan Pepaya itu disematkan oleh wali kelas di kelas 2 SD, Ibu Rohani. 

Sekonyong-konyong seorang guru lewat. Perawakannya sudah tua. Rambutnya sudah banyak yang berguguran. Yang hanya menyisakan rambut di sisi-sisi rambutnya. Untuk bagian tengah, plontos. Guru ini sedikit pendek dan gemuk. Bahkan guru ini lebih pendek dari Alfa. Kadang aku bingung cepat sekali tinggi Alfa bertambah. Namun, saat aku tahu, Alfa sering bermain bola basket bersama Yosua di salah satu lapangan komplek, aku mulai paham mengapa tinggi badannya cepat meroket. Mungkin aku harus bermain basket agar tinggiku bertambah. 

“Kenapa dia?” tanya si guru berkepala plontos di tengah. 

Alfa yang menjawab, “Kesandung anak tangga, Pak.”

“Wah, hati-hati kamu,” ucap si guru plontos terkekeh. “Habis mikirin perempuan, yah, kamu?”

Alfa tertawa. “Tuh, Noel, dijawab pertanyaan si Bapak.”

Lihat selengkapnya