2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #59

Antara Piala Dunia dan Drama Korea

Sudah tanggal 18 Juni. Ulangan umum lagi. Puji Tuhan, ulangan kemarin berjalan dengan lancar. Kemarin itu, yang diujikan adalah Bahasa Indonesia dan IPS. Untuk hari ini, Bahasa Inggris dan IPA. 

Bingung, kan, kenapa tidak ada ulangan Sejarah, Ekonomi, Geografi, Biologi, atau Fisika? Ke seluruh mata pelajaran tersebut diujikan dalam dua buah ulangan bernama IPA dan IPS. Dalam ulangan umum IPS kemarin, ada soal-soal yang berhubungan dengan Ekonomi, Geografi, dan Sejarah. Sementara Fisika dan Biologi dalam ulangan IPA. 

Aku pun sendiri bingung. Namun, aku bersyukur bisa menjalani empat ulangan dalam dua hari ini. Hanya saja, untuk Bahasa Inggris, baru kali aku sadari bahwa Bahasa Inggris untuk SMP tak semudah Bahasa Inggris untuk SD. Ini lebih mirip dengan soal-soal bahasa Inggris untuk anak-anak Inggris atau Amerika di Amerika Serikat atau Britania Raya di seberang lautan sana. Kelihatannya aku harus menganggap serius mata pelajaran Bahasa Inggris sejak tanggal 18 Juni ini. Mungkin aku harus mulai sering bermain The Sims atau Age of Empires. Tak sekadar bermain pula, tapi lebih menyeriusi penggunaan bahasanya. Mungkin aku bisa membedah kalimat-kalimat yang dipergunakan itu menggunakan tenses apa. Future, past, atau present tense, kah? 

Oh, iya, hari ini sedang demam sepak bola. RCTI sedang rutin menayangkan pertandingan-pertandingan Piala Dunia. Apalagi Piala Dunia kali ini tayang di waktu yang sangat menguntungkan aku. Aku tak perlu bergadang juga. Sebab, untuk Piala Dunia 1998 yang berlalu, aku harus melek di atas jam sepuluh malam. Aku selalu ingat harus menahan kantuk hingga jam dua pagi hanya demi menyaksikan kemampuan olah bola Luiz Nazario Da Lima alias Ronaldo. Aku selalu suka Ronaldo saat sedang menggocek bola. Ronaldo seperti sedang menari Samba saja. 

Untuk malam ini, keluarga aku sedang rebutan saluran televisi. Aku, Papa, dan Kak Irma mau menonton Piala Dunia, tapi ada yang mau menonton drama Korea. Mama yang ngotot ingin menonton drama Korea kesukaannya, Endless Love. 

Alhasil, acara menonton Piala Dunia sempat terganggu. Mama sempat memutar drama Korea kesukaannya, Endless Love. Padahal aku ingin menonton Brasil melawan Belgia. Siapa tahu ada gocekan maut dari Ronaldo atau Ronaldinho. Jika Ronaldo sedang mendribel bola, keren sekali! 

Omong-omong, dramanya menarik juga, meskipun agak sedih. Ceritanya itu tentang bayi yang tertukar. Ibunya baru tahu anak bungsunya ternyata bukan anak kandungnya. Tertukar dengan anak seorang pemilik rumah makan mi. 

Aku jadi pengin makan bakmi, deh. Eh, mana ada juga yang jual bakmi di jam seperti ini. Sebagai ganti bakmi, aku minta tolong Mbak Roh untuk membuatkan mi rebus favorit aku dengan campuran telur dan potongan-potongan cabai merah. 

Wah, asyik, iklan. Langsung saja Papa mengganti saluran ke RCTI. Masih terburu. Kebetulan belum ada gol tercipta. Masih kosong kosong. 

Aduh, kembali Mama main mengganti saluran televisi. Padahal aku masih pengin menonton Piala Dunia. Saat aku mau mengganti saluran, malah dibentak Mama. Serunya dengan mata galak, “Belajar saja sana kau!”

Besok ada ulangan Matematika dan Kewarganegaraan. Kewarganegaraan itu nama barunya PPKN. Untuk Kewarganegaraan, sepertinya mudah. Aku yakin bisa mengerjakan soal-soal Kewarganegaraan yang diberikan oleh Pak Hia. Sementara untuk Matematika, waduh, angkat tangan, deh. Calon nilai merah lagi. 

Sembari belajar, aku menyempatkan diri untuk menonton Endless Love. Drama ini terlalu sedih. Kasihan Eun-suh. Pasti pahit mendapati kenyataan bahwa ibu yang merawatnya bukanlah ibu kandungnya. Eh, meski sedih begitu, Eun-suh tetap terlihat cantik. Cantik banget, malah. Apa setiap perempuan Korea secantik ini?

Papa, tadi kulihat sedang bertemu dengan temannya. Malam-malam, ada teman sekantornya yang juga warga komplek datang kw rumah. Kelihatannya ada urusan yang rada rumit. Sudahlah, aku fokus saja belajar untuk ulangan umum. 

Sembari menunggu iklan, biar bisa menonton Piala Dunia lagi, aku belajar Matematika. Aku paksakan diriku untuk mencoba sendiri sekiranya rumus-rumus yang akan keluar dalam ulangan besok. Di dekat aku, ada Christy yang sedang asyik bermain congklak. Eh, dia tidak belajar? Bukankah besok sekolahnya juga ulangan umum? 

Omong-omong, enak, deh, yang sudah bagi raport hari kamis atau sabtu besok. Aku belum. Bahkan, di Markus, ulangan umum-nya baru berlangsung minggu depan. Aku baru ingat sekolahnya Christy dan Kak Irma sudah selesai ulangan umum. Besok sabtu, sekolah mereka berdua sudah pembagian rapor. 

Lihat selengkapnya