2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #60

Sebentar Lagi Pembagian Rapor

Piala Dunia masih berlangsung, dan aku harus harus mengikuti ulangan umum. Repot pastinya. Sangat mengganggu konsentrasi. Di saat aku sibuk mendalami dan menghafal materi-materi yang sekiranya akan keluar di ulangan umum nanti, aku terganggu dengan suasana Piala Dunia.

Kakak dan adik aku sudah selesai ulangan umum. Terutama kakak nomor dua aku, yang selain aku, dia pun senang mengikuti Piala Dunia 2002. Tim favoritnya Italia, yang sudah dijagokan sejak Piala Eropa 2000. 

Omong-omong, meja belajar aku tak jauh dari televisi. Otomatis, aku sulit untuk berkonsentrasi ke ulangan umum. Suara pertandingan Piala Dunia begitu menggoda aku untuk menontonnya langsung. Aku lalu lupa sedang belajar demi ulangan umum. Ayo, konsentrasi!

Mana besok masih ulangan umum. Untungnya, yang sulit sudah terlewati. Apalagi jika bukan ulangan Matematika. Seperti yang aku selalu bilang, Matematika adalah pelajaran yang sangat aku tidak sukai. Aku benci angka-angka. Aku sangat tidak menyukai simbol-simbol perkalian, pembagian, akar, kuadrat, dan… pokoknya, aku benci sekali Matematika. Aku harap saat dewasa nanti aku tidak harus bertemu jenis-jenis Matematika yang seperti ini. 

Apa ini? 

Kusempatkan untuk melihat lagi soal-soal Matematika di buku paket Matematika. Kedua mata ini sepertinya langsung mau keluar dari wadahnya saja. Ya Tuhan, apa nanti aku harus bertemu yang seperti ini di dunia kerja? Tidak, kan? 

Meskipun sudah ikut les privat, aku masih tak mengerti Matematika. Seberapa jago Pak Effendi menjelaskan, aku tetap tak mengerti. Main tamagochi masih jauh lebih menyenangkan.

BENCI BANGET MATEMATIKA! TITIK! TANPA KOMA!

Ah, sudahlah. Kututup terburu-buru buku paket Matematika ini. Ulangan besok adalah Agama dan Bahasa Sunda. Oh, tidak. Aku lupa ada Bahasa Sunda. Sejak kelas 2 SD, selain Matematika, Bahasa Sunda adalah momok. Hiy! 

Untuk Agama, aku tidak mengalami kesulitan. Bagiku, itu sangat mudah. Tak sia-sia aku hobi membaca kisah-kisah Alkitab. Itu sangat membantu dalam ulangan Agama nanti. 

Untuk Bahasa Sunda, entahlah. Sayangnya Santo berada di ruangan yang terpisah. Santo dan Sandi Malau berada di ruang ujian di sebelah ruang ujian yang aku masuki. Padahal Santo ini lumayan pintar dalam hal berbahasa Sunda. Sementara itu,di ruang ujian yang aku masuki, rasa-rasanya tidak ada yang jago berbahasa Sunda. Setidaknya, di kalangan murid-murid kelas 1. Semoga saja kakak kelas aku, Asaf jago berbahasa Sunda. Lumayan, kan, bisa ditanya-tanya selama pelaksanaan ulangan umum. Tentu saja, secara diam-diam.

Lihat selengkapnya