2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #61

Rapor Aku Akhirnya Ditemukan

Jumat adalah hari terakhir ulangan umum. Untuk mata pelajaran Komputer dan Kesenian. Soal ujian Komputer dari Ibu Situmorang tak terlalu sulit. Aku bisa mengerjakannya. Sementara itu, untuk pelajaran Bahasa Sunda, aku pasrah. Untungnya kakak kelas yang duduk di sebelah kanan aku bisa bahasa Sunda. Aku sering meminta diberikan jawabannya. Dia dengan senang hati memberikan jawabannya. Terima kasih, Kak Assaf. Jasamu tak akan pernah lupakan, bahkan ketika nanti dewasa nanti.

Besok sabtu aku libur. Hore, aku bisa kembali menonton Piala Dunia lagi tanpa harus teringat pelajaran di sekolah. Pertandingan-pertandingan di Piala Dunia 2002 teramat sayang untuk dilewatkan. Itu seperti Brasil melawan Belgia. Atau, ada Jerman melawan Amerika Serikat. Selanjutnya aku juga penasaran apakah Korea Selatan bisa mengalahkan Spanyol. Kemarin itu, jujur, meskipun ada kontroversi mengenai wasit, permainan pasukan Guus Hiddink tidak bisa dianggap remeh. Tim nasional Korea Selatan bisa menahan imbang Amerika Serikat. Bahkan tim sekelas Portugal yang memiliki Luis Figo atau Manuel Rui Costa, bisa dikalahkan Korea Selatan. 

Eh, omong-omong tentang Korea Selatan, jujur, sepertinya aku mulai menyukai menonton drama Korea. Kemarin itu, sedih, deh, episode Endless Love. Kasihan Eun-suh. Kenapa gadis secantik Eun-suh harus mengalami penderitaan terus? Semangat, Eun-suh. Dan, Eun-suh juga belum menyadari yang di hadapannya adalah kakak yang selama ini ia tunggu bertahun-tahun. Ah, aku jadi teringat dengan Becky. Aku juga sudah lama sekali tak bertemu dengan Becky. Terakhir aku ketemu Becky, itu saat kelas lima. Lama sekali tak bertemu.

Aku pun sekonyong-konyong teringat dengan gadis Tionghoa itu. Namanya--kalau tak salah--Grace. Aduh, kenapa aku bisa jatuh cinta dengan seseorang yang tak jelas keberadaannya? Kenapa aku tidak bisa jatuh dengan salah satu dari murid-murid perempuan di kelas 1? 

Yuli atau Fani, mereka cantik, harus aku akui. Namun, aku rasa hanya mengagumi kecantikan mereka berdua. Belum sampai pada tahap teringat berhari-hari. Seperti yang aku alami dengan Grace. Walau demikian, benarkah ini cinta? Apakah aku sedang jatuh cinta? 

Sembari bermain Age of Empires, sementara Kak Irma sedang asyik menonton MTV dan Christy sedang bersepeda entah ke mana, kepalaku terngiang-ngiang kejadian itu lagi. Saat aku dan Mama berada di apotek Rumah Sakit Honoris. 

***

Aku duduk di samping Grace. Mama sedang berada di depan salah satu loket apotek. Sementara ibunya Grace sedang menelepon seseorang dengan menggunakan telepon umum yang menggunakan kartu telepon. 

“Oh, gitu, padahal Matematika kan seru banget.”

“Apanya yang seru. Malesin banget. Mending aku disuruh hafal tahun-tahun kerajaan Nusantara berdiri, deh.”

“Nggak sesulit itu, kok, ngapalin tabel kali-kalian. Mau aku ajarin?”

Yang aku ingat, dia langsung saja mengajarkan aku trik menghafal tabel perkalian. Mulai dari tabel perkalian satu hingga tabel perkalian sepuluh. Aku tidak terlalu ingat dengan trik yang diajarkan Grace. Namun, kurasa, triknya Grace sama seperti yang Sodo pernah ajarkan. 

“Aku pengin jadi kayak Om aku.” seru Grace berapi-api, tersenyum. 

“Maksud kamu, kamu mau jadi dokter anak juga?” tanyaku mengernyitkan dahi.

Lihat selengkapnya