Hari ini tanggal 1 Juli 2002. Hari senin, dan hari pertama aku liburan sekolah. Pada 29 Juni yang lalu, aku terima rapor. Puji Tuhan, aku masih peringkat ketiga. Padahal ada dua nilai merah. Itu adalah Matematika dan Olahraga. Keduanya diganjar nilai 55. Paling tinggi adalah IPS, yang mendapatkan nilai 85.
Di kelas 1-1, juara pertamanya tetap Sandi Malau. Peringkat keduanya adalah Patricia. Selanjutnya, peringkat ketiga adalah Noel Irawan Nasution. Iya, seorang pemuda Batak yang kali terakhir mendapatkan ranking tiga itu saat kelas 2 SD. Sampai sekarang aku masih terngiang-ngiang momen itu lagi.
Sembari bermain Age of Empires, aku terkenang momen aku meraih juara tiga untuk kali pertama. Andai saja aku tidak muntah.
Iya, saat itu, aku ingat, walaupun yang kuingat hanya harinya. Itu hari sabtu. Tahunnya itu tahun 1997. Eh, bulannya itu bulan Februari. Selepas ulangan umum, yah, langsung pembagian rapor.
Yang kuingat, saat itu, kondisi aku masih segar bugar. Masih baik-baik saja saat seluruh murid kelas 2 disuruh berkumpul di lapangan basket. Aku pun sampai sekarang bingung mengapa di detak-detik pengumuman juara satu, kedua, dan ketiga dari kelas 2, mendadak perutku terasa sakit sekali. Tanpa tedeng aling-aling, aku memuntahkan apa yang kemakan tadi pagi. Selanjutnya, aku jatuh pingsan di tengah-tengah lapangan basket, yang saat itu belum ada tulisan Dunkin Donut di tiang basketnya.
Begitu bangun, aku sudah berada di ruang UKS. Ada Papa dan beberapa orang berdiri di sekitar aku. Papa langsung menyelamati aku. Beliau bilang aku mendapatkan peringkat ketiga di kelas. Mama sedang mengambil rapor di kelas. Selanjutnya, Pak Rohit, guru Bahasa Sunda, menyuguhkan aku segelas teh hangat. Aku minum dan sekonyong-konyong Mama datang. Berikutnya aku dipapah Mama untuk bergegas ke Kijang Rover berwarna merah tua.
Berikutnya, setelah itu aku mendapatkan libur sebanyak dua minggu. Papa lalu mengajak aku dan anggota keluarga lainnya untuk berlibur ke Sumatera Utara. Sepulang dari Sumatera Utara, yang seingat aku, aku telat ke sekolah. Aku baru masuk ke sekolah seminggu setelah hari terakhir liburan sekolah. Sekalinya datang ke sekolah, aku masuk ke ruangan kelas dengan tangan kanan diperban. Tanganku diperban karena kecerobohan aku sendiri, yang iseng menekan meja kaca yang sudah retak dan hanya ditambal dengan lakban putih dan lem seadanya. Lalu, di jam istirahat, Rizky malah meledekiku dengan cara menirukan diriku yang muntah-muntah di lapangan basket saat pembagian rapor. Astaga, padahal bukan salahku muntah-muntah hingga dibawa lari ke ruang UKS.
Aku spontan tertawa terbahak-bahak saat mengingat kejadian itu lagi. Untungnya, tak ada siapa-siapa di ruangan ini. Kak Irma dan Christy belum bangun. Papa dan Mama pergi ke Pasar Lama. Mbak Nenti sudah berangkat ke wartel Mama di Ciledug. Sementara, di atas, terdengar suara seseorang sedang mencuci pakaian.