2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #63

Ternyata Sekolah Siang

Sudah tanggal 15 Juli. Selesai sudah liburan sekolah. Piala Dunia juga sudah berakhir. Yang empat tahun lagi, baru ada Piala Dunia. Kabarnya Piala Dunia selanjutnya diselenggarakan di Jerman. Di benua Eropa. Jarak Jerman ke Indonesia juga lumayan jauh. Terutama perbedaan waktunya. Langsung aku lihat di internet perbedaan waktu antara Jerman dan Indonesia. 

Oh, perbedaan waktunya itu sekitar enam hingga delapan jam. Kalau sekarang, jam 12 siang. Berarti, di Jerman itu masih sekitar jam 6 pagi. Sekitar segitu, deh. 

Sekonyong-konyong aku menoleh ke arah belakang aku. Ada Mama. Tampangnya galak sekali. Dengan ketus, ia berkata, “Jangan lama-lama kau internetan. Tagihan telepon bisa bengkak.”

Aku mengangguk dan pandangan aku kembali ke arah layar komputer. Sambungan internet langsung aku matikan. Mama segera menghampiri telepon rumah, lalu menghubungi seseorang, yang mungkin itu kerabat dari silsilah Mama. Sementara aku kembali bermain Age of Empires. Untuk kali ini, aku tidak bermain The Sims dulu. Lagi pula, The Sims yang lama di-uninstall Kak Irma. Rencananya mau diganti dengan The Sims versi lain. Character aku, si Dennis Hasselbaink, sedang luar biasa pergerakannya. Dennis sedang berupaya membangun keluarga dengan seorang perempuan blonde--alias yang berambut pirang atau berwarna kuning keemasan. 

Hari ini aku pulang lebih cepat. Tetap berangkat ke sekolah. Bel sekolah tetap berbunyi di setiap jam tujuh pagi. Hanya saja kegiatan belajar mengajar belum dimulai. Tadi sih aku dan murid-murid kelas 2 dan kelas 3 hanya mengikuti upacara bendera. Ada beberapa pengumuman yang diberitahukan oleh Pak Patar, kepala sekolah untuk tahun ajaran 2002-2003. Itu seperti perubahan sistem caturwulan menjadi sistem semester. Tidak adanya lagi sistem ulangan umum. Adanya rapor kuning alias rapor tengah semester. Hingga… 

…ah, ini, nih, yang membuat aku sedikit kesal. Jam belajar aku dan lainnya berubah menjadi siang hari. Kali ini aku mengikuti jejak Christy, yang sudah lebih dulu bersekolah siang. Iya, khusus murid-murid kelas 2, sekolah siang. Murid-murid kelas 1 dan kelas 3 yang bersekolah pagi. 

Sebetulnya aku lebih suka sekolah pagi. Sekolah siang itu tidak menyenangkan. Waktu santai menjadi sedikit lebih berkurang. Sebab, aku pasti pulang menjelang Maghrib. Begitu sampai di rumah, langit sudah agak gelap. Mau tidak mau, setelah sampai rumah, aku harus mandi. Jika ada PR, aku harus segera mengerjakannya. Sebenarnya, dengan masuk siang, itu memungkinkan aku untuk bergadang. Sayangnya tidak begitu. Keesokan paginya, waktunya terbatas sekali. Bel sekolah sudah berbunyi di jam 12.30. Alhasil, aku hanya memiliki waktu yang tidak banyak di pagi hari. Mau bergadang juga susah. Aku harus memikirkan nasibku di keesokan pagi. Dengan aku bersekolah siang, waktu santai aku menjadi tidak begitu banyak. 

Berbeda cerita saat masih bersekolah pagi. Dari sekolah, jam pelajaran sekolah berakhir di jam 12. Sampai rumah, itu mungkin di sekitar jam 12.15. Ada cukup banyak waktu untuk bersantai. Mengerjakan PR bisa dilakukan di waktu malam. Sebelum jam 7 malam, aku bisa bermain permainan komputer seperti The Sims atau Age of Empires. Aku pun bisa menonton televisi atau membaca majalah-majalah favorit aku.

Sementara, untuk kondisi sekarang, aku masuk sekolah di jam 12.30 siang hari. Jam belajar selesai di 17.30. Sedikit memiliki waktu untuk bersantai. Begitu pulang sekolah, aku harus mandi, makan malam, dan, jika ada PR, harus langsung dikerjakan. Harus langsung tidur. Jika bergadang, nanti aku sendiri yang repot keesokan paginya. Pasti bisa kesiangan bangun pagi. Yang akan mengurangi waktu santai di pagi hari. Padahal waktu untuk bersiap pergi ke sekolah juga tidak banyak. Jika aku bangun di jam 7 pagi, aku hanya memiliki waktu untuk bersantai selama 3-4 jam. 

Aku bingung, deh, dengan adikku itu. Dia sepertinya betah juga bersekolah siang. Sejak kelas 1 hingga dia sudah kelas 4 SD. Saat aku masih kelas 1 SMP, kulihat-lihat dia tidak keberatan sama sekali dengan aktivitas bersekolahnya. Yang berangkat sekolah saat matahari akan mau terik-teriknya. Lalu, pulang saat hari sudah cukup gelap. Dia kehilangan kesempatan untuk menonton beberapa tayangan menarik untuk anak-anak seusianya, yang rata-rata tayang di waktu sore hari. Baru kali ini, aku merasa cemburu dengan adik kandung sendiri. 

Pandangan aku sedikit ke layar komputer. Jemariku lincah di atas papan tik. Permainan Age of Empires ini semakin seru saja. Walaupun seru, sebetulnya pikiran aku tidak benar-benar ke dalam permainannya. Sesekali aku bermain sembari mengenang masa lalu. Sekarang ini aku terngiang-ngiang masa awal menjadi murid SMP di SMP Marius. Awal dari aku mengenal teman-teman baru aku seperti Roni, Sandi Malau, atau Fani. 

Pikiranku terbang ke… 

***

Perhatian aku tertuju kepada seorang laki-laki berkacamata yang tadi kulihat sedang bermain bola basket. Begitu upacara penyambutan murid baru akan dilangsungkan, murid berkacamata itu segera memasukkan bola basket ke dalam keranjang yang diletakkan tak jauh dari ruang guru. 

Lihat selengkapnya