"Hirup ieu hirup tenang. Allah masihan unggal urang alesan. Entong sieun. Hayu urang ulah ngalakukeun naon urang hayang. Urang kudu narékahan pikeun kahirupan alus keur tatangga urang. Sanaos urang gagal, percanten ka kuring, sok aya kasempetan kadua."
Sepertinya aku lupa bahwa sudah tidak ada mata pelajaran Bahasa Sunda. Mata pelajaran itu diganti dengan Bahasa Mandarin, yang menurutku, kelihatannya jauh lebih sulit. Aku mendadak teringat dengan drama dari Taiwan tersebut. Meteor Garden, maksudku. Huruf-huruf China di kavernya tersebut, sudah membuat aku pusing tujuh keliling. Semoga saja anggapan aku ini salah.
Kriieett!
Pintu dibuka. Seorang pria tua masuk ke dalam ruangan kelas 2-1. Pria tua itu memperkenalkan dirinya sebagai guru Bahasa Mandarin. Beliau lalu menuliskan namanya di papan tulis. Baris pertama tertulis dalam huruf Latin, yang biasanya aku lihat di kebanyakan buku pelajaran dan buku-buku bacaan lainnya. Lalu, tulisan kedua tertulis dalam huruf China.
Yang tertulis dalam bahasa Indonesia:
Kentjana Tjhoeng
“Yang di atas,” ujar pria tua kepada murid-murid kelas 2-1. “itu namanya saya, Kencana Cung. Yang di bawah, nama saya dalam bahasa Mandarin. Zhōng Tàiyán. Nama depannya, Zhōng, merupakan fam saya. Fam itu marga. Sementara Tàiyán merupakan nama belakang sekaligus nama saya yang sebenarnya dalam bahasa Mandarin. Nama belakang saya itu juga berasal dari kata dalam bahasa Mandarin, Tàiyáng, yang berarti matahari. Papi saya ingin hidup saya menjadi seperti matahari yang terus menerus menerangi sesama saya di dunia ini."
Saat Pak Kencana itu mengucapkan Zhōng Tàiyán tersebut, otakku langsung kusut. Sudah mulai terbayang betapa sulitnya hari-hariku ke depannya. Sudah ada Matematika yang belum kutaklukkan sepenuhnya. Lalu ada Fisika yang semakin bertambah rumit, jika dilihat dari buku paketnya. Eh, sekarang ada Bahasa Mandarin.
“Pertama-tama, saya ajarkan dulu ini,” kata Pak Kencana, langsung menuliskan sesuatu di atas papan tulis. “Saya dalam bahasa Mandarin itu wǒ.”
Dani mengangkat tangan dan bertanya, “Pak, itu coretan di atas huruf o, ada maknanya, yah?”
Oh, iya, selain Felix, Andri, Yongki, dan Johannes, di kelas 2-1, ada satu murid baru lagi. Aku tidak menganggapnya murid baru, sebenarnya. Dani ini dulunya kakak kelas aku. Kemarin dia pernah bercerita dirinya harus tinggal kelas, karena masalah absensi. Karena sering tidak masuk dengan alasan sakit, mau tak mau Dani harus menerima fakta bahwa dirinya harus mengulang lagi.
Pak Kencana mengangguk. “Iya, ada artinya. Nah, di situ letak seninya Bahasa Mandarin. Beda sedikit intonasinya, maka beda artinya.”
Selanjutnya, Pak Kencana mengulang-ulang kata ‘wo' tersebut dalam empat intonasi. “Wo pertama berarti saya. Wo kedua berarti siput. Wo ketiga, kaya. Terakhir, wo yang berarti pelayan. Jadi, hati-hati dengan intonasinya.”
Aku spontan memegang kening. Aduh, pusing. Ini, sih, alamat dapat nilai merah.
Pak Kencana menghampiri Dani. “Siapa nama kamu?”
“Dani, Pak,” jawab Dani, dengan wajah hampir datarnya.
Pak Kencana lalu beringsut ke arah papan tulis lagi dan menuliskan sesuatu. “Wǒ de míngzì shì Dān Nī. Nama saya Dani.”
Di papan, tertulis:
我的名字是丹妮