Pernahkah kalian harus berkutat dengan angka dan simbol-simbol Matematika di saat matahari sudah di atas kepala?
Inilah yang aku rasakan hari ini. Setelah bel berbunyi pada pukul 12.30, jam pertama adalah Matematika. Gurunya bukan Pak Effendi lagi. Kembali ke Pak Nelson.
“Kalau langsung ujian, apa siap kalian?” tanya Pak Nelson nyengir.
Langsung saja murid-murid kelas 2-1 mengeluh kencang. Suasana dalam ruangan kelas sontak ricuh.
“Sssttt!” seru Pak Nelson. “Kalian pikir Bapak ini benar-benar guru killer? Yah, tidak juga. Masih ada hati nurani, Bapak ini. Baru awal tahun ajaran baru, tidak mungkin langsung ujian. Kalian bisa tanya kakak kelas kalian di jam sembilan pagi. Meski masuk siang, kalian bisa datang ke Marius jam sembilan, waktu istirahat, lalu tanya ke murid-murid kelas 3. Atau, tanyalah ke anak-anak SMA. Bapak, kan, mengajar juga di SMA."
“Yah, kita kira,” timpal Yoshi terkekeh-kekeh.
Erick pun ikut menimpali, “Lagian, malesin banget, Pak, mesti ke sini pagi-pagi banget. Waktu pulang sekolah, nyampe rumah, kayak saya nih Pak, nyampe rumah kadang bisa di atas jam delapan malam.”
“Loh, kok bisa, Rick?” tanya Pak Nelson mengernyitkan dahi. “Memangnya kau tinggal di mana?”
“Hampir ke Jakarta, Pak,” jawab Erick. “Dekat-dekat Bintaro gitu. Pulang sekolah waktu lagi macet-macetnya. Angkot-angkot pada sering ngetem. Untung aja saya bawa motor."
“Eh, hati-hati dengan polisi, Rick,” kata Pak Nelson mewanti-wanti. “Belum ada KTP sama SIM, yang Bapak lihat.”
“Diakalin, lah, Pak,” ujar Erick terkekeh-kekeh. “Lewat jalan-jalan kampung. T'rus, langsung keluarin helm, kalau lagi di jalan besar. Kalau kita patuh sama aturan lalu lintas, polisi juga nggak bakal tahu kita nggak punya SIM sebetulnya.”
“Pintar juga kau,” ujar Pak Nelson memberikan acungan jempol. “Tapi, kelihatan, lah, kau masih SMP. Celanamu itu.”
“Yah, dari Marius, ganti celana dulu, Pak,” jawab Erick terkekeh-kekeh.