2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #67

Perayaan 17-an di kala Terik

Ah, makin terasa perbedaan antara sekolah pagi dan sekolah siang. Maksud aku adalah saat aku masih bersekolah di waktu pagi dan saat sekarang ini. Yah, itulah maksudnya. 

Terutama saat sekarang ini. Di tanggal 13 Agustus 2002 seperti sekarang. Sekarang ini, di Marius, sedang ada perayaan 17 Agustusan. Sebelum tanggal 17 Agustus, tidak ada kegiatan belajar mengajar. Sekolah ramai dengan serangkaian lomba-lomba. 

Lomba-lombanya itu sudah dimulai sejak jam 8 pagi. Yang aku kira itu selesainya tidak sampai sore. Nyatanya, sampai jam 3 sore. Yang seperti kemarin senin. Kemarin senin itu, aku memang datang ke sekolah. Kukira, ada kegiatan belajar mengajar. Ternyata tidak ada kegiatan belajar mengajar. 

Agak kecewa, sih, dengar tidak ada kegiatan belajar mengajar. Percuma saja aku belajar Matematika. Dua hari sebelum tanggal 12 Agustus, aku bahkan sempat memanggil Pak Ramlan, guru les baru aku. Dua hari sudah aku belajar secara privat dengan Pak Ramlan. Eh, besok senin, tak ada ulangan Matematika. Rasanya sia-sia, deh. 

Aku mendadak teringat kata-kata Sandi Malau kemarin. Katanya, “Ya elah, Noel. Nggak ada yang sia-sia, kali. Nanti, kan, tinggal diulang-ulang lagi. Pas, kan, ini. Jadi kita punya waktu lebih untuk lebih memantapkan apa yang diajarin sama Pak Nelson.”

Tertawa aku di tengah-tengah sedang menonton lomba tarik tambang antara murid kelas 2 Khusus SMA Marius melawan kelas 3 SMP Marius. Sandi Malau benar juga. 

Santo mencolek aku. “Ada apa? Ketawa sendiri gitu, hahaha.”

Aku terkekeh-kekeh sambil menggelengkan kepala. “Nggak. Nggak ada apa-apa. Lucu aja. Udah dibantuin guru-guru, kakak kelas kita masih aja kalah.”

Sandi Malau yang tadi aku pikirkan, mendadak muncul. Ia terkekeh dan segera menimpali, “Yah, kali, bisa menang. Tetap aja kalah, kali, Noel. Yang anak SMA, badan-badannya mereka pada gede-gede gitu. Hahaha.”

“Tapi, kakak kelas kita juga nggak kalah,” tangkis Santo yang segitu membela kakak kelasnya di SMP Marius. “Kayak Jemi juga ikutan. T'rus, Riko, Naufal, sama Bondan, yang kayak gorila, juga ikutan.”

“Iya, sih,” ujar Sandi Malau yang sepertinya meralat kata-katanya tadi. “Eh, gue mendadak keinget, deh, sama 17-an tahun lalu. Keseruan lomba tata boga itu apalagi.”

Eh, Seviane dan beberapa murid perempuan kelas 2-1 datang. Seviane langsung berdecak dan matanya melotot tajam. Ujarnya galak, “Waktu itu, San, gue repot ngurusin persiapan lomba tata boga itu.”

Oh, untuk tahun ajaran 2003-2004, ketua kelasnya bukan lagi Seviane. Erick adalah ketua kelas dari murid-murid kelas 2-1. Ada beberapa teman baru juga. Itu seperti Andri (yang bertangan kidal), Yongki (yang kecil-kecil cabe rawit), Yohanes (yang suka membuat kegaduhan selama kegiatan belajar mengajar), dan Dani (yang tahun lalu merupakan kakak kelasku). Selain itu, Leo Pardede yang bertubuh jangkung itu gagal pindah dari kelas sebelah 2-2. Terjadi kesalahan di dalam administrasi, begitulah yang Pak Poltak pernah jelaskan. 

Sandi Malau tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… yang penting, kan, kelas kita menang, Sev.”

Santo ikut merespon, “Benar yang dibilang Sandi, Sev.”

Niki cemberut. “Apaan, sih, Santo? Nyamber aja kayak kompor mledug!”

Sementara aku hanyalah terkekeh-kekeh sembari menggelengkan kepala. Mendadak aku teringat kembali dengan kejadian 17-an tahun lalu. 

***

“Tas lu isi apa, Noel?” tanya Sandi yang sepertinya penasaran dengan isi ransel aku. Ia langsung menyentuh ransel aku tanpa izin. “Ya elah, murid teladan lu. Lagi 17-an begini, masih bawa buku pelajaran.”

Aku hanya membalas kata-katanya dengan tertawa kecil. Pandangan aku kembali teralih ke buku resep. Tentang cara membuat nasi tumpeng. 

Lihat selengkapnya