2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #68

Milka yang Berani


Kisah ini terjadi saat aku duduk di kelas 2 SMP.

Siang yang cukup panas. Terkadang aku menyesali bisa sekolah siang. Apalagi, saat harus mengikuti jam Olahraga. Ah, untungnya aku berada di kelas 2-1. Kelas aku melangsungkan mata pelajaran Olahraga di atas jam tiga siang. Berbeda dengan kelas 2-2. Mereka harus berpanas-panasan saat matahari sedang terik-teriknya.

Tadi aku dan teman-teman baru saja mengikuti mata pelajaran Sejarah. Pengajarnya adalah Bu Gultom. Bu Gultom itu galak sekali. Jika tidak mengerjakan PR, langsung tangan ini siap dipukul dengan penghapus papan tulis. Sakitnya! 


Bel sekolah berbunyi. Banyak temanku yang bersorak. Mereka bersorak, karena hanya di jam Olahraga sajalah, mereka bisa lebih leluasa dan rileks. Menurutku, itu bisa dimaklumi. Sebab kami tak harus terus menatap papan tulis ataupun mendengarkan penjelasannya Bu Gultom yang sebetulnya cenderung mendikte. 

Sejujurnya sih, aku lebih suka terus saja mendengarkan celotehan Bu Gultom. Malasnya saat harus berlari-larian di lapangan basket. Aku rindu tahun lalu. Saat itu, aku masih kelas pagi. Kegiatan berolahraga dilakukan di saat pagi hari.

"Ah, masih enak jam Olahraga, Noel," Ramot memotong ceritaku baru saja. "Capek gue dengerin si Nenek Sihir ngebacot."

Ramot lalu segera melepaskan kemeja putih. Ia mengenakan seragam Olahraga yang berwarna biru muda.

"Tapi, nggak menyenangkan lari-lari waktu lagi panas begini," tangkis aku ikut berganti pakaian.

Leo menimpali, "Ah, gue lebih demen ikut kelas Olahraga. Pusing gue dengerin si Nenek Sihir ngomong."

Ramot menambahkan, "Seenggaknya pemandangan di luar kelas jauh lebih menyegarkan pikiran daripada pemandangan dalam kelas. Toh, kondisi cuacanya juga nggak terlalu panas. Yah, udah, langsung turun ke bawah."

Selanjutnya, baik Ramot, Leo, aku, Dani, dan Suhandi bergegas keluar ruangan kelas.

Oh, selepas mata pelajaran Sejarah, seperti aku katakan tadi, jam Olahraga. Setelah Bu Gultom keluar kelas, aku dan teman-temanku bersiap-siap ganti seragam. Kami akan mengganti seragam putih-biru dengan seragam olahraga yang berwarna putih dengan lengan dan celana panjangnya berwarna biru tua. Di belakang kaos dan sisi celananya terdapat tulisan nama sekolah. Murid-murid laki-lakinya biasanya berganti seragam di dalam kelas, sedangkan sebagian murid perempuan berganti di toilet. Sebagian lainnya memilih berganti di ruang kelas satu yang sedang kosong, dikarenakan murid kelas satu dan murid kelas tiga masuk pagi. Aku dan teman-teman kelas dua menempati ruangan yang sama dengan kakak kelas kami. 

Karena kebanyakan murid lelakinya itu mengenakan pakaian dobel alias mengenakan dua pakaian sekaligus, tadi aku dan lainnya tak butuh waktu lama berganti pakaian. Untuk bagian bawahnya, bersyukur celana olahraganya jauh lebih panjang daripada celana biru SMP-nya, sehingga mudah dilepaskan. Sehingga tadi aku dan lainnya hanya tinggal menutupi celana sependek lutut itu dengan celana panjang berbahan katun, yang sebelumnya melepaskan dahulu gespernya. 

Sepersekian detik kemudian, setelah meninggalkan ruangan kelas, aku dan lainnya selesai ganti pakaian dan beranjak keluar kelas. Bersiap menuju lapangan basket. Aku dan teman akrabku, Suhandi, keluar di urutan terakhir. Tiba-tiba saja Ramot bersiul-siul tak keruan. Leo menunjuk ke arah seseorang dengan lirikan matanya.

Pandangan aku langsung tertuju ke arah sesosok makhluk cukup asing di SMP. Sosok itu terasa asing karena sosok pria itu mengenakan seragam putih abu-abu. Sosok pria itu tengah berjalan menuju sosok lainnya yang cukup familiar di mataku. Murid SMA itu berjalan menghampiri murid SMP berambut ikal dengan panjangnya sebahu. Kalau murid perempuan itu sih, aku kenal secara baik. Itu, kan, Milka.

Baik aku dan lainnya tertegun agak lama. Kami berdiri di dekat tangga. Sementara jarak antara kami dan Milka serta murid SMA itu beberapa langkah. Milka dan murid SMA itu sedang berada di depan ruang kelas murid kelas 1-1 yang sedang kosong.

Leo langsung mengangguk saat Ramot membisikinya. Dia segera berjalan agak lebih mendekat ke arah Milka dan murid SMA tersebut. Leo berpura-pura akan mengambil bola basket. Memang di sebelah ruangan kelas 1-1 aadalah ruangan inventori.

 

*****

Lihat selengkapnya