“Yah, tadi katanya mau pulang, sekarang batal?!” protes Seviane sambil melipat tangan di dada. “Gue catat nih, San!”
“Bukan gitu, Sev…” ujar Sandi Malau dengan senyum cengengesan khasnya. “Itu tuh, tim cewek dari Santa Maria udah dateng. Masa kita nhgak nonton?”
Santo dan aku otomatis menoleh ke arah lapangan basket. Benar saja, beberapa siswi SMP Santa Maria—dengan seragam olahraga putih-merah bergaris biru—baru saja memasuki area sekolah. Di antara mereka, aku mengenali salah satunya.
“Eh, itu bukan yang waktu lomba cerdas cermat minggu lalu?” tanyaku.
“Iya!” sahut Santo. “Yang namanya… siapa ya? Clarissa, ya?”
Sandi menyahut cepat, “Bukan, bukan Clarissa. Namanya Monica. Monica Tjahjadi. Gue inget banget, soalnya waktu itu dia ngalahin tim kita di semifinal. Gara-gara soal tentang Perang Dunia II, tuh!”
Aku dan Santo spontan tertawa. “Ya elah, lo masih dendam, San?” kata Santo.
“Bukan dendam,” kilah Sandi. “Tapi sejak saat itu, gue jadi nge-fans. Gila, cewek pinter, tinggi, jago basket. Komplit!”
“Woy, jangan ngiler!” teriak Virgo yang entah dari mana muncul sambil menenteng botol Aqua ukuran 1,5 liter.
Aku kembali memandang ke arah Monica, dan entah kenapa, rasa nostalgia kembali menyeruak. Tahun 2003 sudah di depan mata. Segalanya terasa berubah, tapi juga terasa akrab. Rasanya seperti duduk di depan televisi nonton acara Makibao di Trans TV, sambil berharap sepatu merek Diadora impian bisa terbeli dari hasil menang lomba 17-an. Rasanya seperti melihat kembali poster Dewa 19 dan Sheila on 7 yang menempel di dinding kamar.