Langit Tangerang mulai menggelap, meskipun baru pukul setengah empat sore. Angin sore bertiup pelan, membawa aroma gorengan dari kantin belakang. Suasana sekolah tetap ramai, karena pertandingan basket antara tim SMP Marius melawan SMP Santa Maria akan segera dimulai.
“Ayo, buruan! Dapat tempat duduk di tribun tengah, yuk!” seru Santo, yang sudah menggenggam botol Aqua bekas yang diisi penuh dengan es teh manis. Santo bertingkah seolah-olah dia sedang berada di Stadion Benteng, Tangerang.
Sandi Malau menimpali dengan nada penuh antusias, “Gue penasaran sama cewek-cewek Santa Maria itu. Kata anak-anak, kapten basket-nya cakep banget. Monica, namanya.”
Aku mengernyit. “Monica?”
“Iya, katanya sih dia langganan juara antar SMP se-kotamadya. Gue sempet lihat pas mereka pemanasan tadi di lapangan luar. Tingginya hampir kayak yang main di sinetron Siapa Takut Jatuh Cinta, tapi tetap feminin. Rambutnya dikuncir dua. Sumpah, kayak cewek-cewek di iklan sampo era 90-an!” Sandi Malau bicara seolah-olah sedang jadi komentator basket.
Kami bertiga pun bergegas menuju lapangan. Benar saja, tribun tengah hampir penuh. Beberapa murid laki-laki dari kelas lain juga tampak heboh sendiri melihat penampilan tim lawan. Aku melihat ke arah lapangan. Monica berdiri di tengah-tengah tim Santa Maria, mengenakan jersey biru muda bernomor punggung 7. Matanya tajam, fokus menatap ke depan. Tatapannya seperti pemain profesional.
“Eh, itu Monica, ya?” tanya Santo dengan mata membelalak. “Wah, Sandi, lu nggak lebay ternyata. Beneran cakep!”
Sandi Malau berdeham sok cool. “Tentu. Gua kan penganut prinsip: jangan kasih info tipu-tipu.”
Tepat ketika peluit tanda dimulainya pertandingan ditiup, suara sorak-sorai menggema. Monica memimpin serangan pertama dengan menggiring bola melewati dua pemain Marius dengan gerakan zig-zag yang lincah.
“Woy, gila! Lincah banget dia!” pekikku, ikut terbawa suasana.
Pertandingan berlangsung sengit. Meskipun tim Marius memiliki Jemi dan Bondan yang bertubuh kekar, tim Santa Maria bermain dengan strategi yang rapi dan presisi. Monica jadi motor permainan, mencetak lima poin berturut-turut hanya dalam tiga menit pertama. Tak hanya hebat, dia juga sesekali tersenyum setiap kali berhasil mencetak poin—senyum yang, entah kenapa, bikin tribun cowok-cowok kelas dua mendadak sunyi.
“Eh, kayaknya dia senyum ke arah kita, deh,” bisik Santo setengah berteriak.
Sandi Malau malah berdiri dan melambai. “Monicaaa! Sukses ya, Mon!”
“Gila lu, San,” tegurku.
Namun Monica benar-benar melirik ke arah kami. Ia mengangkat tangan, melambai sebentar. Matanya berhenti sesaat pada kami—atau, jangan-jangan, padaku?