2000 In Memoriam

Nuel Lubis
Chapter #72

Langsung Disambuylt Ulangan Matematika

Perayaan 17 Agustus sudah usai. Hari-hari penuh lomba, canda tawa, dan euforia perlombaan kini hanya tinggal kenangan. Gedung SMP Marius kembali ke ritmenya yang biasa: bel yang berbunyi tiap pergantian jam pelajaran, suara guru menerangkan dari depan kelas, dan deretan bangku kayu yang kembali rapi dengan murid-murid yang lebih sering menunduk karena menghadapi soal-soal ujian.

Hari ini, 21 Agustus 2003. Hari pertama ulangan harian. Pelajaran yang pertama diujikan adalah… Matematika.

“Siap, anak-anak?” suara Pak Nelson terdengar berat namun tetap penuh wibawa. Ia berdiri di depan kelas 2-1 dengan lengan disilangkan, memegang map soal berwarna merah menyala. 

Aku menelan saliva. Di balik lensa kacamatanya, mataku menatap kosong ke arah papan tulis. Aku duduk di bangku tengah bersama Santo di sebelah kanan dan Sandi Malau di belakang. Perasaan malas, cemas, dan pasrah bercampur jadi satu. Liburan mini selama perayaan 17-an membuat otakku serasa kembali ke mode tidur panjang. Kini, aku dipaksa terbangun dengan angka-angka dan rumus-rumus.

Pak Nelson mulai membagikan kertas soal. “Waktu kalian mengerjakan adalah 60 menit. Tidak ada suara. Tidak ada tanya-menanya. Yang ketahuan mencontek, langsung saya cabut nilainya.”

Satu per satu murid mulai menerima soal. Kertas berwarna putih itu mendarat di meja Noel. Ia menatap soal-soalnya.

 

  1. Diketahui fungsi f(x) = 2x² - 4x + 3. Tentukan nilai minimum fungsi tersebut.
  2. Sebuah segitiga mempunyai panjang sisi 8 cm, 15 cm, dan 17 cm. Tentukan luas segitiga.
  3. Dalam sebuah kelas, rata-rata nilai Matematika 20 murid adalah 75. Jika nilai Riko yang tidak ikut dihitung dimasukkan dan menjadi 76, berapakah nilai Riko?

 

Aku terdiam. Otakku memutar kembali apa yang dia pelajari bersama Pak Ramlan seminggu lalu. Aku mencoba menulis ulang rumus-rumus dasar di pojok kertas.

Santo di sebelahku mendesah pelan. “Astaga naga,” bisiknya hampir tak terdengar.

“Fokus!” tegur Pak Nelson dari depan. “Saya tahu siapa yang mengeluh. Yang mengeluh artinya belum siap.”

Santo langsung menunduk dalam-dalam. Aku menahan tawa.

Di barisan belakang, Sandi Malau sepertinya masih sibuk membaca soal. Ia menggaruk kepala, lalu menyilangkan satu kaki ke atas paha, gaya andalannya ketika berpikir keras. Terlihat sekali dia tidak menyangka bahwa soal hari ini akan sesulit ini. Bahkan Sandi tidak membuka pensilnya dari kotak.

Beberapa menit berlalu. Aku mulai mengerjakan nomor satu. Aku ingat, fungsi kuadrat bentuk seperti itu punya titik minimum di x = -b/2a. Langsung menulis cepat:

 

 

Aku tersenyum. “Satu poin aman,” bisikku dalam hati.

Lihat selengkapnya