Setelah istirahat, murid-murid kelas 2-1 kembali masuk ke dalam kelas. Bel masuk baru saja berbunyi dan ruang kelas terasa semakin panas. Atap seng sekolah Marius menyerap panas matahari siang hari yang menyengat. Sekolah mereka, yang berdiri sejak tahun 80-an, belum tersentuh anggaran untuk kipas angin, apalagi AC. Bau spidol, keringat, dan debu bercampur jadi satu dalam ruang kelas yang terasa pengap itu.
“Baik, sekarang pelajaran Bahasa Indonesia,” kata Bu Silaen, sambil membuka buku catatannya dan menepuk-nepuk telapak tangannya ke meja guru. “Topik hari ini adalah... majas. Masih ingat apa itu majas?”
Beberapa anak mengangguk malas, beberapa lainnya cuma memandangi papan tulis dengan tatapan kosong. Bu Silaen mengenakan blus bunga-bunga dan rok panjang warna abu-abu. Suaranya lantang, dan ia terkenal tegas serta tidak bisa ditawar dalam hal tugas. Namun begitu, ia sangat berdedikasi. Meskipun demikian, Bu Silaen sering mendongeng di depan murid-murid. Bahkan, sering bercerita perihal saat ia sekolah atau kuliah dulu.
“Yuli, tolong ke depan. Salin di papan yah, daftar majas yang saya tulis di buku ini,” ujar Bu Silaen sambil memberikan buku cetak Bahasa Indonesia.
Yuli mengangguk, mengambil spidol putih, dan mulai menyalin.
Satu per satu, anak-anak mulai membuka buku tulis dan menyalin apa yang ditulis Yuli. Noel menaruh kepalanya di antara dua tangan, mencoba menulis tapi pikirannya melayang-layang.
Panasnya ruangan membuat tulisan anak-anak terlihat makin malas. Santo bahkan membuka kancing kerah bajunya sambil mengipas-ngipas dengan buku. Donny, yang duduk tepat di belakang aku, menyenggol Sandi Malau.
“Eh, kalian nonton Meteor Garden semalem?” bisiknya.
Sandi langsung menoleh, semangat. “Gila! Episode tadi malem keren banget! Si Dao Ming Si ditabrak mobil, tapi malah ngelamar Shan Cai!”
Noel mendengus kecil. “Gue sih nonton bentar, tapi langsung ketiduran. Masih belum move on dari season satu. Season dua ini agak lebay, ya?”
Suhandi, dari barisan samping, ikut nimbrung. “Iya, tapi seru juga sih. Sekarang ceritanya di Barcelona, tauk. Mereka shooting di luar negeri. Keren banget.”
“Lu mah yang penting ada Mei Zuo,” ujar Santo meledek.
Suhandi tertawa pelan. “Iya dong. Kalau lu, To, pasti sukanya si Lei yang kalem itu.”
“Noel lebih cocok jadi Hua Ze Lei, deh,” celetuk Sandi. “Kalem, pinter, tapi diem-diem nyimpen rasa. Nyimpen rasa buat Mareta, yah, Noel. Atau Melati?"
Aku hanya terkekeh-kekeh, pelan-pelan menatap Mareta yang sibuk menyalin.