Setelah pelajaran Bahasa Indonesia berakhir, kami sempat diberi waktu sekitar lima belas menit sebelum pelajaran terakhir hari itu dimulai. Pelajaran itu Olahraga. Biasanya pelajaran Olahraga adalah yang paling kami tunggu, apalagi kalau cuma main-main di lapangan. Sayangnya hari ini, suasana sedikit berbeda. Ujian Sejarah tadi benar-benar menguras energi.
Aku masih duduk di bangkuku, mengelap keringat yang entah datang dari mana, padahal sudah sore. Di luar jendela, sinar matahari masih menampar ubin dan tembok-tembok tua sekolah Marius. Panasnya tidak kira-kira. Seolah-olah atap seng sekolah kami berubah jadi penggorengan raksasa.
“Kenapa ujian Sejarah harus sedetail itu, sih?” gumam Sandi Malau dari belakangku sambil meregangkan punggung. “Bu Gultom bener-bener nggak ngasih ampun. Siapa juga yang harus inget isi Traktat London lengkap?”
“Gue malah baru tahu tadi kalau Diponegoro ditangkapnya tuh di Magelang,” timpal Santo, menggaruk kepala. “Dulu gue kira di Yogya.”
“Kebanyakan nonton sinetron," ujar Donny sambil terkekeh.
Kami keluar kelas bersama-sama, berjalan menuju lapangan. Anak-anak cowok sebagian besar sudah menggulung lengan kemeja biru mereka. Beberapa dari kami, termasuk aku, mengganti celana panjang seragam dengan celana olahraga pendek warna biru tua. Kaus kaki dilipat, sepatu sudah belel, tapi tetap kami pakai.
Begitu sampai di lapangan basket, Pak Maruap sudah berdiri dengan peluit di leher. Dia mengenakan celana training Adidas jadul dan kaus hijau yang sudah mulai pudar warnanya. Selalu mengenakan topi bertuliskan nama pertamanya.
“Oke, anak-anak! Baris dulu! Pemanasan sebelum mulai!”
Kami langsung membentuk dua barisan. Lapangan basket tempat kami berkumpul bukan lapangan yang ideal. Aspalnya sudah retak di sana-sini. Garis-garis lapangannya memudar. Ring basket di sisi kanan agak miring karena sambungannya karatan. Walaupun demikian, lapangan kebanggaan kami. Satu lagi, kupandangi tulisan ‘Dunkin Donut' yang sudah memudar. Kenangan itu menyeruak lagi. Saat aku juara 3 kelas beberapa tahun yang lalu.
“Hari ini kita latihan passing dan lay-up. Kalau sempat, kita main game 3 lawan 3. Tapi sebelum itu, pemanasan dulu!”
Kami mulai gerakan pemanasan. Aku bisa merasakan lututku agak kaku. Mungkin efek terlalu lama duduk dan belajar seharian. Satu per satu kami melakukan gerakan peregangan leher, bahu, tangan, hingga kaki. Keringat mulai mengalir deras di dahiku.