Di tahun 2008,
Baru saja aku menyelesaikan ujian. Minggu ini masih UTS. Alias Ujian Tengah Semester. Berlangsung kurang lebih selama dua minggu. Tadi saja aku menyelesaikan ujian Hukum Adat dan Multikulturalisme. Soal-soal Hukum Adat cukup mudah. Kisi-kisinya nyaris keluar di soal ujian. Namun, untuk Multikulturalisme, soalnya sulit sekali. Aku dipaksa harus mengarang indah. Disuruh membuat esai tentang pemilihan umum yang akan diadakan tahun depan; yang kemudian dikaitkan dengan multikulturalisme. Cukup sulit menjawabnya.
Begitu keluar dari ruang ujian, aku langsung pulang. Aku menolak ajakan Budi, dkk, untuk nongkrong dulu di warung kopi kecil yang tak jauh dari kampus. Bukan apa-apa, sih. Hanya saja aku ingin belajar untuk ujian besok. Dalam sehari, ada tiga ujian. Ada ujian Hak Asasi Manusia, Etika Umum, dan Hukum Dagang. Bahannya seabrek. Apalagi untuk Hukum Dagang.
Perjalanan dari kampus hingga rumah cukup lancar. Saat aku melihat jam di ponsel tadi, sudah pukul 11.23. Jarang terkena macet di jam-jam segitu. Biasanya akan menemui kemacetan di atas jam tiga sore. Waduh, itu macet gila-gilaan.
Aku menyempatkan diri untuk ke warnet dulu. Sudah lama tidak mengecek Facebook dan Friendster aku. Juga, entah mengapa aku ingin membuka aplikasi Yahoo Messenger. Loading-nya cukup lama. Selama menunggu proses loading, aku terkenang masa SMP aku. Saat aku kelas 1 SMP, khususnya. Eh, Suhandi itu bagaimana kabarnya?
***
Yang masih tetap sama. Beberapa murid kelas 1-1 memaksa aku untuk ikut mendribel dan melemparkan bola ke ring. Ah, ternyata perintahnya dari Pak Maruap sendiri. Beliau menghampiri aku sembari terkekeh-kekeh.
“Bapak melakukan ini,” ucap Pak Maruap tersenyum dan memukul punggung aku pelan. “demi kebaikan kamu juga, Noel. Ikutlah main basket bareng teman-teman kamu. Jangan kabur atau bengong-bengongan saja di pinggir lapangan.”
Erick ikut menimpali, “Salah itu wajar, kok, Noel. Gue juga, meski bawa kelas kita juara waktu classmeeting itu, ada kalanya pernah juga bikin kesalahan. Nggak selamanya bolanya masuk ring. Nih, coba lu lihat."
Lalu Erick menerima bola yang dilemparkan Yoshi yang tadi baru saja memasukkan bola ke ring selama beberapa kali. Tampaknya Erick bersiap melemparkan bola basket ke dalam ring. Pembawaannya seperti pemain bola basket profesional saja. Menurut aku, pasti bola itu masuk ke dalam ring. Nyatanya, dugaanku meleset. Bola itu membentur papan kayu di sekitar ring, yang bertuliskan merek restoran donat yang cukup aku sukai sejak kecil.
***
Saat aku sedang mengobrol dengan Sisca di Yahoo Messenger, muncul tulisan PING di jendela baru. Penasaran aku, itu siapa. Akun yang menge-PING aku memang menggunakan foto pribadi. Namun selain foto yang digunakan agak buram, aku kurang begitu mengetahui foto siapa itu. Lalu, terjadilah obrolan antara aku dan seseorang yang menge-PING aku.
“Ini siapa?”
“Wah, parah lu, masa nggak kenal gue?”
“Beneran nggak tahu. Maaf aja. Fotonya nggak jelas juga.”
“Sialan lu. Gue dibilang nggak jelas.”
“Bukan gitu. Emang tampilan fotonya nggak jelas.”
“Ini Noel, kan?”
“Iya, ini Noel. Ini siapa? Jangan bikin penasaran, dong.”
“Suhandi. Masih ingat?”
“Suhandi yang dulu di Marius?”
“Iya, ini gue, Suhandi. Apa kabar lu?”
“Baik, baik. Lu sendiri?”
“Puji Tuhan, lebih baik dari lu. Hahaha."
“Berengsek!”
“Hahaha. Udah bisa ngumpat lu, yah, sekarang. Padahal dulu pemalu banget. Kadang digangguin anak-anak.”
“Ah, itu, kan, dulu. Setiap manusia pasti berubah. Apalagi, terakhir ketemu waktu SMP. Empat tahun yang lalu. Pasti, lah, gue berubah.”
“Wuih, lancar lu ngomong sama gue. Apa karena lewat YM?”
“Hahaha. Apaan sih lu? Eh, tahu YM gue dari mana?”